Skip to main content

Blessing in Disguise

Hi Fellas!

It's me again. (yaiyalah ini blog gue...)

Lama tidak update dan tolong jangan tagih aku tentang lanjutan dari postingan sebelum ini ya, hahaha. It's still way down the road, tapi aku janji akan segera mem-publish-nya. Sekarang aku selak dulu satu cerita yang cukup memorable dan aku ingin kalian juga tahu. 

Aku nggak pernah nyangka bahwa tragedi yang sampe bikin aku nangis dan patah semangat sebenarnya adalah rencana Allah untuk menyelamatkanku dari hal-hal penting lainnya, dan untuk sesuatu yang lebih besar.

So this is it. 

Berawal saat kami di Salatiga, ibuku tiba-tiba membuka bagasi belakang mobil yang penuh dan langsung membuat tasku terjatuh. 

Tasku yang ada laptopnya. 

Menariknya, aku biasa menggunakan tas laptop sendiri kalau bepergian. Namun entah kenapa waktu itu aku sengaja nggak memakainya. But I believe that was also Allah's plan and we'll get into that. 

Saat itu, aku kesal sampai nangis. Mana jatuhnya keras banget dan langsung ke jalanan bebatuan. Takut kalau ternyata rusak karena timing-nya lagi padat banget: deadline capstone project, sampai persiapan daftar kampus. "Nggak apa-apa hil, everything will gonna be okay kok." Aku mencoba buat kasih afirmasi positif biar nggak kelewat sebal. 

Besoknya di hari Senin, aku coba membuka laptop untuk mulai kerja, dan ternyata mati total 😭

Akhirnya aku coba pinjam laptop ayahku dan sekalian nanya-nanya tentang beli laptop baru daripada di-service. Emang udah direncanain juga sih akan beli laptop baru, dan untungnya semua data penting udah aku backup di cloud online, jadi bisa diakses di device manapun.  

Kemudian hal yang aku nggak terpikirkan datang seperti petir di siang bolong. jederr 🔥 (pakai emot api karena nggak nemu emot petir di fitur bloggernya, hiks).

Salah satu klien STIFIn nge-chat aku dan ngingetin kalo besok adalah jadwal tesnya. Awalnya sih nggak jadi masalah, karena aku bisa install ulang software STIFIn di laptop bapake. But thank God, aku akhirnya menghubungi mas Richard dan turned out ternyata kalo kita install ulang di device lain, data yang ada di device sebelumnya otomatis hilang. 

Aaannnd wait a minute. Data STIFIn di laptop yang mati itu kan penting semua karena banyak data klien lama yang belum sempat dicetak sertifikatnya. 

Kabar lainnya, di minggu itu ada dua klien STIFIn yang harus aku tes. 

"Oh no this is bad... sumber uangku bakal hilang nih buat minggu ini kalo ini laptop beneran mati. Dan aku nggak mau kehilangan data lama juga, itu lebih penting." Aku beneran ngucapin itu dalam hati guys, oh jangan sekali-kali ditiru!! My mistake. 

Akhirnya aku coba lagi usaha buat nyalain laptopnya dan masih nggak berhasil. Malam itu juga aku langsung chat dua klien tersebut, minta di-reschedule tapi satu klien nggak bisa karena harus segera mudik. Oke, akhirnya aku lepaskan satu klien ke temanku yang untungnya bisaa huhuhu. Nggak tau lagi gue kalo nggak ada yang bisa gantiin. Aku cerita kalau laptopku baru banget jatuh dan mati total. Alhamdulillah, mereka semua mengerti.

Selasa, 16 Agustus 2022

Aku bangun untuk shalat shubuh dengan kondisi badan yang menggigil. Ayahku bilang itu efek AC tapi aku yang setiap dua tahun sekali kena thypus, udah khatam kalo ini salah satu gejalanya. Padahal malamnya waktu ngobrol sama klien STIFin, kondisiku masih baik-baik aja. Nggak ada pertanda sakit, aku bahkan masih ketawa-kesengsem rewatch beberapa episode Extraordinary Attorney Woo yang hampir tamat.

Tapi pagi itu, dunia berputar 180 derajat. Semakin siang semakin badanku nggak karuan. Mual, mulut pahit, demam tinggi sampai 39 derajat! 

Lalu aku tersadar. Ya Allah, di balik sakitnya badanku ini ternyata Allah udah menyelamatkanku bahkan dari beberapa hari yang lalu. Allah yang menggerakkan aku untuk nggak bawa tas laptop supaya aku taruh itu laptop di ransel biasa, dan kemudian ransel itu akan jatuh, laptop itu jadi mati total sampai akhirnya aku harus membatalkan janji tes STIFin karena hari selasanya aku akan sakit. 

Well, this happened all over again, persis seperti kasus yang aku ceritakan di postingan sebelum ini. 

TAPI KOK HILYA NGGAK SADAR JUGA YAA, HELLO??? Malah di awal sempat pakai nangis dulu, bilang kalo everything will gonna be okay but the truth is, kamu tetap menyalahkan keadaan, hil? 

Aku paham, semua perasaan sedih kesal itu valid dan aku terima perasaan itu. Tapi nggak harus sampai nyalahin keadaan sampai bilang kalo "rejeki kamu hilang". Coba kalo ternyata laptop kamu nggak rusak dan kamu nggak batalin itu tes STIFIn di hari Selasa padahal Selasa paginya badan kamu bakal panas tinggi? Gimana cara nyari penggantinya, hil? Gimana cara kamu ngomong ke klien di saat hari itu kamu sama sekali nggak sanggup membuka handphone?

Fakta tambahan, ternyata aku beneran thypus dan juga positif covid. Wew, that was tough, truly. 

Bertemu lagi dengan cacing-cacing ini setelah tiga tahun. Per hari ini, udah abis dua botol :)


Akan ada banyak pihak yang dirugikan dan disakiti kalau hal itu terjadi., and Allah saved you from that. What do you say, Hil?

Jujur, malu sih huhuhu. Jadi pelajaran banget buat aku yang sedang belajar untuk 100% tawakkal dengan rencananya Allah. Semoga teman-temanku yang di sini tidak mengikuti jejakku yaah :)

Di awal aku bilang kalo laptop tersebut rusak di saat yang tidak tepat, tapi ternyata aku salah. Laptop itu akhirnya punya waktu beristirahat setelah berhari-hari nggak dimatiin karena capstone project dan beberapa pekerjaan. So did I. Padahal tahun lalu, aku bekerja di sebuah agensi yang masya Allah jam kerjanya bikin gue kayang tiap hari tapi lucunya, nggak pernah sakit parah (padahal dulu ngarep banget tipesnya kambuh karena udah dua tahun wk, ini juga jangan ditiru plz). Malahan di saat jadwalku nggak terlalu padat, Allah kasih sakit itu.

Jadi menurut Allah capstone project yang sampe bikin begadang jumpalitan itu juga nggak parah guys, mana gue project leader-nya wkwk. Inget banget waktu itu badan masih demam, nggak bisa ngomong karena mual tapi gue harus mimpin rapat. Ahh that time... Walau baru sebulan yang lalu :')

But well, I did it. I did it after graduation, after last presentation to the client. Alhamdulillah. 

Alasan lain aku menuliskan ini di tengah malam karena per hari ini alhamdulillah aku udah bisa beraktivitas dengan normal, yeayyy! Alhamdulillah senang sekaliii 😆. Sekaligus jadi refreshing untuk minggu ini. These two weeks is tough, for real, I need to write to heal. Jadi postingan ini sekaligus membuka lembaran hidup Hilya yang baru, insya Allah dengan versi yang lebih baiknya dan lebih peka sama semua tanda-tanda dari Allah. 

Semoga kalian sehat selalu yaa! 

Thank you for reading,

Best Regards,

Hilya.

Comments

  1. Tapi tapi emang susah bgt husnudzon gitu disaat kalut heuu.. :(

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

my beloved sai :)

Sekolah Alam Indonesia tempat dimana aku mengahbiskan banyak waktu disini. dari kecil. dari playgroup. sampe sekarang. di tingkat tertinggi di SAI, SL 9. " sekolah alam? sekolah di utan apa hil?" "sekolahnya gimana tuh? punya kelas ga?" bener kata ka rhea. aku ga belajar di kelas. aku belajar di saung. karena kalo kelas itu identik sama ruang segiempat yang bertembok dan ada jendelanya. ada bangku, meja, meja guru dll. sedangkan sekolahku, ga ada meja guru. hehehehe. disini, aku ngga cuma belajar 2x2=4 atau, hasil akhir dr soal math, fisika, dll. tapi gimana prosesnya aku dapet jawaban itu. ga cuma kognitif, tapi akhlak juga diliat disini. dan selama aku sekolah disini, aku ga pernah bosen belajar disini. emang aku pernah bosen belajar math, ipa atau pelajaran lainnya. tapi lingkungan sekolahnya ngga pernah bikin aku bosen. the teachers. semua guru disini friendly. enak banget diajak ngobrol. sampe susah banget nge-describenya hehe.. mungkin karena belom pernah nyob...

Tentang Orangtua

Semenjak aku menjadi satu-satunya anak besar (bukan badannya) yang tinggal di rumah, aku semakin sadar bahwa sebenarnya aku ini masih jauh dari kata anak baik.  Seperti dulu waktu masih kuliah dan lagi sok-sokan menikmati peran sebagai (sok) aktifis, aku sering banget nggak izin pulang telat sama ortu. Dulu mikirnya dalam hati “gue udah gede kok, udah bisa jaga diri dan gue nggak macem-macem, kegiatan gue nggak aneh-aneh” ternyata itu semua nggak cukup saudara-saudara. Karena memang setelah itu, sering banget aku ditegur karena pulang malem. Bukan masalah pulang malemnya, tapi izinnya itu loh. Teguran pertama, aku iyain aja dan aku ikuti maunya mereka: izin setiap pulang malam. Namun itu hanya hangat di awal saja. Ke sininya, penyakit kesotoyan gue-udah-gede ini kumat kembali. Aku akhirnya mendapatkan SP 2 waktu itu which I could add a fact : terjadi adu mulut di situ. Aku yang mempertanyakan kenapa harus begini, begitu? Orangtua yang selalu punya senjata andalan “kami tuh...