Semenjak aku menjadi satu-satunya anak besar (bukan badannya)
yang tinggal di rumah, aku semakin sadar bahwa sebenarnya aku ini masih jauh
dari kata anak baik.
Buatku yang nggak sempurna dan baru mengetahui esensi hubungan orangtua dan anak (perempuan), tentu nggak mudah melewati ini. Ada masa-masa di mana aku lelah dan nggak setuju dengan beberapa pandangan mereka. Biasanya sih ini lebih ke pandangan terhadap masa kini gitu sih, bukan hal prinsipil. Nggak jarang juga aku kurang sreg dengan bagaimana sikap mereka terhadap anak, cara mendidik yang menurutku kurang pas, bisa ke aku atau adik-adik. Namanya juga manusia, nggak ada yang sempurna. Aku pun begitu. Dulu tiap kali nggak suka atas sesuatu dari ortu, argumen pasti ada: kenapa, kenapa, dan bagaimana itu udah jadi senjata ampuh. Pun juga dengan sikap ortu yang kurasa nggak tepat, tapi sebenernya nggak masalah-masalah banget sih, cuma kok ya akunya kelewat kesal.
Thank you for reading,
Best regards,
Hilya
Seperti dulu waktu masih kuliah dan lagi sok-sokan menikmati
peran sebagai (sok) aktifis, aku sering banget nggak izin pulang telat sama ortu. Dulu
mikirnya dalam hati “gue udah gede kok, udah bisa jaga diri dan gue nggak
macem-macem, kegiatan gue nggak aneh-aneh” ternyata itu semua nggak cukup saudara-saudara.
Karena memang setelah itu, sering banget aku ditegur karena pulang malem. Bukan
masalah pulang malemnya, tapi izinnya itu loh. Teguran pertama, aku iyain aja
dan aku ikuti maunya mereka: izin setiap pulang malam. Namun itu hanya hangat
di awal saja. Ke sininya, penyakit kesotoyan gue-udah-gede ini kumat kembali.
Aku akhirnya mendapatkan SP 2 waktu itu which I could add a
fact: terjadi adu mulut di situ. Aku yang mempertanyakan kenapa harus begini,
begitu? Orangtua yang selalu punya senjata andalan “kami tuh orangtua kamu,”
yang unfortunately tidak ampuh saking bodohnya aku akan konsep orangtua-anak
pada saat itu. It wasn’t ages ago, it was like one or two previous years. Betapa
nggak tahu dirinya aku sebagai anak.
Walaupun aku akui itu adalah hal terbodoh yang kalau boleh
rasanya pengen aku selalu mengutuk diri untuk ini, tetapi Alhamdulillah. Sekali
lagi, Alhamdulillah wa syukurillah, aku benar-benar mensyukuri musibah
kebodohan tersebut. Dari situ, hubungan dengan ortu semakin baik (dalam
takaranku, I was trying so hard) dan ada satu kalimat dari ayahku yang akhirnya
membuatku sadar akan kebodohan ini:
kamu belum tahu gimana rasanya punya anak perempuan.
Jujur, buatku kalimat itu ngena banget karena aku anaknya
rasional, jadi memang harus disadarkan dengan sesuatu yang masuk akal dan salah
satunya ini. Aku bahkan nggak pernah membayangkan posisiku nanti ketika
memiliki anak perempuan, yang sudah beranjak dewasa, yang sudah kuliah dengan
lingkup pertemanan yang heterogen, ditambah jurusanku memang terkenal wah
sekali pergaulannya. Aku juga nggak pernah sadar bahwa di luar sana sudah
banyak kejahatan yang menimpa perempuan dan itu kebanyakan terjadi di malam
hari. I was like hello, lo ke mana aja selama ini hil?
Setelah kalimat itu terlontar dari mulut ayah, aku selalu
memosisikan diri ketika melakukan apa pun baik di rumah maupun di luar. Alhamdulillah
izin akhirnya jalan terus walau suka telat juga izinnya, hehe. Masih suka lupa
buat ngabarin segera, tapi tetap selalu diusahakan berkabar. Yaa, banyak yang
berubah lah.
Dari situ juga akhirnya komunikasiku dengan orangtua semakin
membaik. Apalagi mendekati akhir perkuliahan, aku mendapat banyak sekali
masalah, I cursed myself and blaming either dan mengobrol dengan ortu adalah
salah satu ‘pelarian’ yang sekaligus menenangkan, I couldn’t ask for more
betapa selama ini orangtuaku baik banget dan bahkan ketika aku bisa memiliki
100 tahun kesempatan untuk hidup, kebaikan orangtua tidak akan pernah bisa
terbalas.
Yes, apalagi sekarang-sekarang ini obrolan yang mengarah ‘ke
sana’ if-you-know-what-I-mean, itu sudah semakin sering terdengar. Obrolan sepele,
malu juga buat ngebahasnya, but deep enough karena seringnya mereka mempersiapkan
bekal pernikahan buatku, semakin terasa bahwa aku nggak selamanya hidup sama
mereka. Ada masa di mana semua aktivitas yang kulakukan untuk orangtua mau itu
inisiatif sendiri atau suruhan mereka, akan selesai dari konteks birul walidain.
Kalaupun nanti aku sudah menikah dan tetap bisa berbuat baik sama mereka,
nilainya akan berbeda di Mata Allah. Karena kewajiban untuk berbaktiku sudah
berpindah. Itu juga berarti, dalam beberapa tahun ke depan ada hari di mana
kewajibanku ini akhirnya berpindah tangan. Itu akan terasa cepat sih karena semakin ke
sini waktu semakin cepat berlalu.
Jadi sekarang ini, aku sangat menikmati hidupku yang
disuruh-suruh melulu sama orangtua. Padahal dulu mah boro-boro. Either gak mau,
atau nggak yaa dilakukan tapi ocehannya berentet di depan dan di belakang. Jangan
ditiru dan kayaknya sih gue doang yang begini ya. Masya Allah, nggak tahu diri banget sih hil :(
Buatku yang nggak sempurna dan baru mengetahui esensi hubungan orangtua dan anak (perempuan), tentu nggak mudah melewati ini. Ada masa-masa di mana aku lelah dan nggak setuju dengan beberapa pandangan mereka. Biasanya sih ini lebih ke pandangan terhadap masa kini gitu sih, bukan hal prinsipil. Nggak jarang juga aku kurang sreg dengan bagaimana sikap mereka terhadap anak, cara mendidik yang menurutku kurang pas, bisa ke aku atau adik-adik. Namanya juga manusia, nggak ada yang sempurna. Aku pun begitu. Dulu tiap kali nggak suka atas sesuatu dari ortu, argumen pasti ada: kenapa, kenapa, dan bagaimana itu udah jadi senjata ampuh. Pun juga dengan sikap ortu yang kurasa nggak tepat, tapi sebenernya nggak masalah-masalah banget sih, cuma kok ya akunya kelewat kesal.
Dan ketika ‘ujian’ harus sabar sama ortu itu muncul lagi, aku
selalu ingat bahwa nggak ada orangtua yang nggak mau anaknya lebih baik dari
mereka. Semua yang mereka berikan pun baik materi maupun sikap adalah pemberian
terbaik dan berharap yang baik buat anak-anaknya. Tentang cara mereka memberikan
atau menyampaikannya, bisa jadi karena mereka nggak mau kita itu ‘jelek’
akhirnya jadi nervous dan keluarlah sikap-sikap yang kita nggak suka itu. Kembali
lagi, nggak ada manusia yang sempurna. Itu berarti nggak ada juga orangtua yang
sempurna. Tugas kita sebagai anak lah yang nantinya menyempurnakan sikap-sikap
tersebut. Setidaknya buatku, si anak perempuan, menyempurnakan sikap itu yang
bisa aku berikan kelak ketika aku menjadi orangtua. Biar itu menjadi pembalasan
budiku yang walau sudah bukan kewajibanku untuk berbakti, tetapi ada yang aku
wariskan dan membuat mereka tenang bahwa anaknya sudah lebih baik dari mereka.
Terlepas dari keunikan pribadi masing-masing. Lagian nggak ada yang jamin juga
aku bisa lebih baik dari mereka, jadi kenapa aku harus ngeluh dan berontak? Semoga
sih ini selalu melekat di diri aku dan jadi bekal tersendiri bagaimana tidak
mudahnya menjadi orangtua.
Dan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dengan susah payah dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Masa mengandung sampai menyapihnya selama tiga puluh bulan, sehingga apabila dia (anak itu) telah dewasa dan umurnya mencapai empat puluh tahun, dia berdoa ,“Ya Tuhanku, berilah aku petunjuk agar aku dapat mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau limpahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, dan agar aku dapat berbuat kebajikan yang Engkau ridhai; dan berilah aku kebaikan yang akan mengalir sampai kepada anak cucuku. Sungguh, aku bertobat kepada Engkau, dan sungguh aku termasuk orang muslim. (QS 46:15)
Thank you for reading,
Best regards,
Hilya

Aku mau nangis hil :''
ReplyDeleteAku aja nulisnya sambil nangis pit :"). semangatt!
Deleteaku baru baca, bagus hil, ngena banget
ReplyDeletethak you dhii!
Deletehil, love you
ReplyDeleteACOOH ayo ngeblog lagiiiii
Delete