Skip to main content

Tentang Orangtua

Semenjak aku menjadi satu-satunya anak besar (bukan badannya) yang tinggal di rumah, aku semakin sadar bahwa sebenarnya aku ini masih jauh dari kata anak baik. 

Seperti dulu waktu masih kuliah dan lagi sok-sokan menikmati peran sebagai (sok) aktifis, aku sering banget nggak izin pulang telat sama ortu. Dulu mikirnya dalam hati “gue udah gede kok, udah bisa jaga diri dan gue nggak macem-macem, kegiatan gue nggak aneh-aneh” ternyata itu semua nggak cukup saudara-saudara. Karena memang setelah itu, sering banget aku ditegur karena pulang malem. Bukan masalah pulang malemnya, tapi izinnya itu loh. Teguran pertama, aku iyain aja dan aku ikuti maunya mereka: izin setiap pulang malam. Namun itu hanya hangat di awal saja. Ke sininya, penyakit kesotoyan gue-udah-gede ini kumat kembali.

Aku akhirnya mendapatkan SP 2 waktu itu which I could add a fact: terjadi adu mulut di situ. Aku yang mempertanyakan kenapa harus begini, begitu? Orangtua yang selalu punya senjata andalan “kami tuh orangtua kamu,” yang unfortunately tidak ampuh saking bodohnya aku akan konsep orangtua-anak pada saat itu. It wasn’t ages ago, it was like one or two previous years. Betapa nggak tahu dirinya aku sebagai anak.

Walaupun aku akui itu adalah hal terbodoh yang kalau boleh rasanya pengen aku selalu mengutuk diri untuk ini, tetapi Alhamdulillah. Sekali lagi, Alhamdulillah wa syukurillah, aku benar-benar mensyukuri musibah kebodohan tersebut. Dari situ, hubungan dengan ortu semakin baik (dalam takaranku, I was trying so hard) dan ada satu kalimat dari ayahku yang akhirnya membuatku sadar akan kebodohan ini: 


kamu belum tahu gimana rasanya punya anak perempuan.


Jujur, buatku kalimat itu ngena banget karena aku anaknya rasional, jadi memang harus disadarkan dengan sesuatu yang masuk akal dan salah satunya ini. Aku bahkan nggak pernah membayangkan posisiku nanti ketika memiliki anak perempuan, yang sudah beranjak dewasa, yang sudah kuliah dengan lingkup pertemanan yang heterogen, ditambah jurusanku memang terkenal wah sekali pergaulannya. Aku juga nggak pernah sadar bahwa di luar sana sudah banyak kejahatan yang menimpa perempuan dan itu kebanyakan terjadi di malam hari. I was like hello, lo ke mana aja selama ini hil? 

Setelah kalimat itu terlontar dari mulut ayah, aku selalu memosisikan diri ketika melakukan apa pun baik di rumah maupun di luar. Alhamdulillah izin akhirnya jalan terus walau suka telat juga izinnya, hehe. Masih suka lupa buat ngabarin segera, tapi tetap selalu diusahakan berkabar. Yaa, banyak yang berubah lah.

Dari situ juga akhirnya komunikasiku dengan orangtua semakin membaik. Apalagi mendekati akhir perkuliahan, aku mendapat banyak sekali masalah, I cursed myself and blaming either dan mengobrol dengan ortu adalah salah satu ‘pelarian’ yang sekaligus menenangkan, I couldn’t ask for more betapa selama ini orangtuaku baik banget dan bahkan ketika aku bisa memiliki 100 tahun kesempatan untuk hidup, kebaikan orangtua tidak akan pernah bisa terbalas.

Yes, apalagi sekarang-sekarang ini obrolan yang mengarah ‘ke sana’ if-you-know-what-I-mean, itu sudah semakin sering terdengar. Obrolan sepele, malu juga buat ngebahasnya, but deep enough karena seringnya mereka mempersiapkan bekal pernikahan buatku, semakin terasa bahwa aku nggak selamanya hidup sama mereka. Ada masa di mana semua aktivitas yang kulakukan untuk orangtua mau itu inisiatif sendiri atau suruhan mereka, akan selesai dari konteks birul walidain. Kalaupun nanti aku sudah menikah dan tetap bisa berbuat baik sama mereka, nilainya akan berbeda di Mata Allah. Karena kewajiban untuk berbaktiku sudah berpindah. Itu juga berarti, dalam beberapa tahun ke depan ada hari di mana kewajibanku ini akhirnya berpindah tangan.  Itu akan terasa cepat sih karena semakin ke sini waktu semakin cepat berlalu.

Jadi sekarang ini, aku sangat menikmati hidupku yang disuruh-suruh melulu sama orangtua. Padahal dulu mah boro-boro. Either gak mau, atau nggak yaa dilakukan tapi ocehannya berentet di depan dan di belakang. Jangan ditiru dan kayaknya sih gue doang yang begini ya. Masya Allah, nggak tahu diri banget sih hil :(



Buatku yang nggak sempurna dan baru mengetahui esensi hubungan orangtua dan anak (perempuan), tentu nggak mudah melewati ini. Ada masa-masa di mana aku lelah dan nggak setuju dengan beberapa pandangan mereka. Biasanya sih ini lebih ke pandangan terhadap masa kini gitu sih, bukan hal prinsipil. Nggak jarang juga aku kurang sreg dengan bagaimana sikap mereka terhadap anak, cara mendidik yang menurutku kurang pas, bisa ke aku atau adik-adik. Namanya juga manusia, nggak ada yang sempurna. Aku pun begitu. Dulu tiap kali nggak suka atas sesuatu dari ortu, argumen pasti ada: kenapa, kenapa, dan bagaimana itu udah jadi senjata ampuh. Pun juga dengan sikap ortu yang kurasa nggak tepat, tapi sebenernya nggak masalah-masalah banget sih, cuma kok ya akunya kelewat kesal. 

Dan ketika ‘ujian’ harus sabar sama ortu itu muncul lagi, aku selalu ingat bahwa nggak ada orangtua yang nggak mau anaknya lebih baik dari mereka. Semua yang mereka berikan pun baik materi maupun sikap adalah pemberian terbaik dan berharap yang baik buat anak-anaknya. Tentang cara mereka memberikan atau menyampaikannya, bisa jadi karena mereka nggak mau kita itu ‘jelek’ akhirnya jadi nervous dan keluarlah sikap-sikap yang kita nggak suka itu. Kembali lagi, nggak ada manusia yang sempurna. Itu berarti nggak ada juga orangtua yang sempurna. Tugas kita sebagai anak lah yang nantinya menyempurnakan sikap-sikap tersebut. Setidaknya buatku, si anak perempuan, menyempurnakan sikap itu yang bisa aku berikan kelak ketika aku menjadi orangtua. Biar itu menjadi pembalasan budiku yang walau sudah bukan kewajibanku untuk berbakti, tetapi ada yang aku wariskan dan membuat mereka tenang bahwa anaknya sudah lebih baik dari mereka. Terlepas dari keunikan pribadi masing-masing. Lagian nggak ada yang jamin juga aku bisa lebih baik dari mereka, jadi kenapa aku harus ngeluh dan berontak? Semoga sih ini selalu melekat di diri aku dan jadi bekal tersendiri bagaimana tidak mudahnya menjadi orangtua. 


Dan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dengan susah payah dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Masa mengandung sampai menyapihnya selama tiga puluh bulan, sehingga apabila dia (anak itu) telah dewasa dan umurnya mencapai empat puluh tahun, dia berdoa ,“Ya Tuhanku, berilah aku petunjuk agar aku dapat mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau limpahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, dan agar aku dapat berbuat kebajikan yang Engkau ridhai; dan berilah aku kebaikan yang akan mengalir sampai kepada anak cucuku. Sungguh, aku bertobat kepada Engkau, dan sungguh aku termasuk orang muslim. (QS 46:15)

Thank you for reading,
Best regards,

Hilya

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

my beloved sai :)

Sekolah Alam Indonesia tempat dimana aku mengahbiskan banyak waktu disini. dari kecil. dari playgroup. sampe sekarang. di tingkat tertinggi di SAI, SL 9. " sekolah alam? sekolah di utan apa hil?" "sekolahnya gimana tuh? punya kelas ga?" bener kata ka rhea. aku ga belajar di kelas. aku belajar di saung. karena kalo kelas itu identik sama ruang segiempat yang bertembok dan ada jendelanya. ada bangku, meja, meja guru dll. sedangkan sekolahku, ga ada meja guru. hehehehe. disini, aku ngga cuma belajar 2x2=4 atau, hasil akhir dr soal math, fisika, dll. tapi gimana prosesnya aku dapet jawaban itu. ga cuma kognitif, tapi akhlak juga diliat disini. dan selama aku sekolah disini, aku ga pernah bosen belajar disini. emang aku pernah bosen belajar math, ipa atau pelajaran lainnya. tapi lingkungan sekolahnya ngga pernah bikin aku bosen. the teachers. semua guru disini friendly. enak banget diajak ngobrol. sampe susah banget nge-describenya hehe.. mungkin karena belom pernah nyob...