Hi fellas, long time no see!
Beberapa teman bertanya ke mana hilya dan mengapa hilya menghilang dalam dunia per-blogger-an selama satu tahun lebih. Yep, 2021 lalu adalah tahun yang cukup....menantang buat aku. Unfortunately, aku harus menyamarkan semua identitas aku di media sosial bahkan mem-private semua akun. Sounds complicated right? yes, it is. Aku pun terpaksa mengganti (lagi) url blog untuk ketiga kalinya tapi kali ini, dengan sangat terpaksa. Walaupun begitu, aku tetap menulis kok teman-teman. Cuma nggak aku publish aja, hahaha.
So, where have I been along 2021 and what did I do? Aku pernah review sedikit 6 bulan hidup di tahun 2021 di medium walau habis itu nggak pernah update lagi. Well, di bawah aku akan preview juga soal life update aku yang berkaitan dengan apa yang akan aku sampaikan di sini.
Beberapa orang udah tahu yah, kalau empat tahun ini aku sudah mengganti resolusi awal tahun dengan tema hidup untuk satu tahun. Mengapa? Sejujurnya awalnya cuma pengen nyoba hal yang baru aja. Kalau resolusi itu terlalu banyak dan malah nggak terlalu works di aku, jadi aku memutuskan untuk coba highlight satu tema besar tapi fokus dan deep. Harapannya, di akhir tahun aku jadi menguasai si tema yang aku rancang dengan baik.
Menariknya, selama empat tahun aku berkutat dengan tema hidup, sepanjang itu pula Allah langsung mengabulkan secara kontan tentang apa-apa aja yang aku butuhkan, dari yang direct sampai indirect yang akhirnya mengantarkan aku ke goal akhir untuk bisa hidup sesuai tema.
Misal tahun lalu, tema yang aku propose adalah: resilience; daya tahan kita terhadap suatu cobaan. Aku minta ke Allah agar tahun 2021 kemarin aku bisa lebih kuat menghadapi cobaan apapun yang diberikan, tidak mudah menyerah, dan bertahan sampai titik darah penghabisan. Dan ternyata, sepanjang 2021 Allah kasih aku battlefield yang bermuara pada kenaikan level ketahanan aku ketika menghadapi ujian. Aku jadi bisa menoleransi konflik kecil, dan lebih tahan serta bersabar dalam kesulitan. Masha Allah, All thanks to Him.
Dan tahun ini, tema hidupku adalah: Tawakkal, menjemput takdir terbaik.
Aku baru sadar, sebelum meningkatkan resiliensi, seharusnya aku sudah paham betul bagaimana konsep berserah diri sepenuhnya kepada Allah. Malah, konsep tawakkal itu harus sudah diterapkan di awal sebelum akhirnya meningkatkan kekuatan ketika mendapat masalah. Simply, karena kalau kita sudah menginternalisasi dan menerapkan konsep kepasrahan kepada Allah atas ketetapanNya, maka seberat apapun ujian yang kita hadapi akan terasa lebih ringan. Tapi tidak ada kata terlambat untuk belajar bukan? Maka dari itu, tahun ini aku pengen banget bisa deeply understand mengenai konsep dan praktik ketawakkalan ini.
Di sisi lain, aku memproyeksi akan banyak hal yang (mungkin) terjadi di tahun ini dan semuanya bertemu di persimpangan yang sama dan bikin galau. Contohnya: pendidikan, karir, pernikahan. Apalagi aku sedang apply studi ke luar negeri. Gimana kalau jadi? nikah dulu atau kuliah dulu? Kalau nggak dapat S2nya tahun ini, career path mana yang ingin aku tekuni? Terus kalau ditengah career path harus menikah dan ikut suami ke suatu tempat yang aku nggak tahu, gimana? Ada banyak hal yang nggak bisa aku kontrol, dan aku sadar masih ada sisi dalam diriku yang tetap takut akan ketidakpastian itu. Makanya, itulah kenapa akhirnya aku memutuskan untuk mengusung tema Tawakkal, menjemput takdir terbaik, karena aku sendiri masih sadar betul kalau aku belum sepenuhnya pasrah, huhuhu.
And what's the result after these five months?
Surprisngly, sebulan setelah aku present ke Allah dan ke kelompok ngaji (karena mandatory tugas), Allah langsung 'acc' proposal aku dengan ujian yang nggak aku duga. Well, aku adalah orang yang cukup terencana, dan Mahabaik serta Mahapenyayangnya Allah, Dia uji rencana yang sudah kususun rapi, dengan pukulan keras yaitu, karir yang harus aku lepas sebelum waktunya.
1. Kejutan yang Allah Berikan di balik Resign 'Dadakan'
Aku nggak akan cerita kenapa (some of you guys have known why, hahaha). Tapi karena resign di luar rencana itulah yang akhirnya membuka topeng asli aku soal tingkat pemahaman akan Tawakkal. For instance, I was scared. Really. Aku takut akan ketidakpastian hidupku; merasa tertiggal dari teman-teman, merasa rendah karena udah nggak financially independent, dan lain sebagainya. Ditambah lagi, aku resign di pertengahan bulan which means, aku nggak dapat gaji terakhir 100%. That also haunted me.
Tanggal 18 Maret adalah hari terakhirku di project kemarin. Alasan utama *rahasia* haha, alasan kedua yang juga utama juga sih; aku harus ngejar deadline LPDP tanggal 27 Maret. Jadi waktu resign lebih maju itu sengaja aku ajukan karena aku mau fokus menyiapkan essai dan dokumen-dokumen lainnya untuk LPDP. Kalau pakai waktu kerja, hmmm, jam kerjaku itu.....kayaknya hampir 24 jam. Selesai kerja sisa capeknya aja. So yeah, that's why.
Apakah aku lega akhirnya terlepas dari project penuh 'darah dan air mata' itu? di satu sisi, iya. Di sisi lain, kekhawatiran aku cukup besar. Sehari setelah aku resign justru yang paling jadi momok bukan leganya tapi, takutnya. "gimana hidup aku habis ini ya Allah? Dapat kuliah lagi aja belum tentu, kerja lagi di industri masih berat...."
Hilyaaaa gimana sih kamu? Katanya mau tawakkal, tapi di awal aja kamu udah merasa ragu sama hidup kamu. Di mana posisi Allah kalau kayak gitu hil?
Itulah perang yang terjadi antara otak dan hatiku, saat itu.
Minggu, 20 Maret 2022. Aku kasih batas waktu di hari ini untuk terakhir bersedih-sedih, dan bercerita sepenuhnya kepada Allah tentang kekhawatiranku, sekaligus bertobat karena sudah 'gagal' di awal dengan tema ketawakkalan yang aku canangkan. "Ya Allah, aku malu. Aku yang minta untuk menjadi hamba yang tawakkal, tapi aku sendiri yang justru ragu akan hidupku yang sudah Engkau tetapkan." lirihku.
Minggu sore saat agenda ngaji rutin online, aku minta doa ke guruku untuk diberi kekuatan dalam menjalani hidupku selanjutnya dengan suara serak dan bergetar, nahan air mata. Beres ngaji waktu maghrib, aku tuntaskan semua keresahanku, berjanji dan pasrah sepenuhnya, "Ya Allah, maafkan aku yang belum bisa sepenuhnya tawakkal, tapi aku janji, detik ini aku akan ikuti ke mana Engkau mengarahkanku, so guide me. Please."
Karena sudah janji untuk berakhir sedihnya dan fokus untuk mulai menyiapkan berkas LPDP di seminggu terakhir sebelum penutupan, aku buka laptopku dan mulai membuka situs LPDP. Aku pandangi sejenak, masih ingin memperjuangkan kampus Bogor, sama dengan tahun lalu. Namun tiba-tiba, aku teringat kalau aku sudah lama nggak update kabar soal penerimaan mahasiswa di salah satu univ di UK. Yep, aku sempat mendaftar ke salah satu univ di Skotlandia, UK, Februari lalu, dan aku penasaran apakah pengumumannya sudah keluar.
Kemudian aku coba ketikkan situs admission univ tersebut, dan ternyata sudah keluar hasilnya!


Barakallahufykum Hilya.. Terus luruskan niat, Lillah, Billah, Fillah..
ReplyDeleteSemoga Allah berkahi ilmunya.. Sahalallahulak.. Semoga Allah mudahkan segala urusannya..
Bu Dianiiii. Thank you for reading yaa bu. Aamiin yaa rabbal'alamiin. Mohon doanya jugaa untuk segala rencana belajarku.
Delete