Skip to main content

Muslim(ah) yang Berperan



Hello fellas! Alhamdulillah semakin ke sini aku semakin produktif membaca buku…di kantor hehe. Bukan makan gaji buta kok. Aku membacanya waktu jam istirahat makan siang dan sesekali waktu istirahat shalat asar. But for me that’s enough for gaining up this reading mood again, finally. Di rumah walau capek tapi masih bisa disempatkan untuk membaca. 
 
Buku yang baru-baru ini aku baca adalah Beauty Undercover for Muslimah karya dr. Davrina Rianda. Namanya sih memang sudah nggak asing terlebih buat UI-nians yang tahu bang Faldo Maldini, she’s his wife. Dokter muda cantik ini akhirnya merilis juga buku yang menurutku adalah survival kit dan must have buat perempuan-perempuan pada umumnya, dan muslimah pada khususnya. Isinya bisa ditebak sih, tentang segala hal yang selalu disorot wanita: kecantikan. Poin plusnya, kecantikan di sini ditinjau dari sisi medis, which that is her specialization as a moslema doctor. Isinya tentang apa, baca sendiri saja. Kalau terlanjur penasaran, silakan google sendiri resensinya karena seperti postingan ini, aku nggak akan membahas mengenai isi buku tersebut hehe. 

Kesan pertamaku terhadap buku ini adalah: amazing. Karena memang sejujurnya, buku ini muncul ketika aku sedang gencar-gencarnya mempelajari skin care dan body health. Telat banget sih memang, Alhamdulillah sadarnya waktu masih muda ini jadi ada lah kesempatan untuk terus memperbaiki diri, physically. 

Waktu aku membuka-buka daftar isi, muncul di lintasan pikiran kalau ini dokter keren banget. Gimana nggak? Semua bab yang menjadi konten buku ini memang tepat sasaran dengan kondisi wanita muslimah moderen. Poin plusnya, pada setiap bab dan pembahasannya selalu menyertakan dalil yang menguatkan segitu pentingnya kita harus merawat tubuh. Segitu pentingnya sampai Allah pun mengaturnya dalam ayat dan menitipkan pesanNya lewat hadits dan sunnah nabi. 

Di sisi lain, aku mengagumi sosok dokter Vrina yang menurutku patut dijadikan role model untuk para muslimah –termasuk aku- di Indonesia. Dokter Vrina tidak hanya menjadikan profesinya hanya dengan tujuan profit oriented, tetapi juga menjangkau dan menerapkan aspek keislaman itu sendiri. Sebagai seorang muslim, tentu sudah jadi kewajiban untuk terus mencari kebenaran Allah. Misi seorang muslim pun tidak hanya beribadah dalam konteks shalat, dan sisi aqidah lainnya tetapi juga menyeluruh pada seluruh aspek kehidupan seperti misalnya ber-muamalah. 

Menjadi seorang muslim yang berpendidikan itu perlu. Dari situlah kita akhirnya lebih menghidupi hidup, terlebih pendidikan yang kita jalani selaras dengan minat dan cita-cita kita. Nggak mungkin juga kan, kalau semua orang islam menjadi ustad seperti Aa Gym, almarhum Uje, ustad Adi Hidayat, dll yang memang berfokus menjadi pendakwah murni. Nggak ada yang salah memang dengan menjadi pendakwah murni karena kita pun membutuhkan figur tersebut. Namun pasti tidak semua dari kita suka, bisa, dan mampu menjadi ‘pak ustad’. Beberapa orang termasuk aku pernah berpikir: enak banget ya jadi ustad. Hidupnya jelas, terarah. ‘profesi’nya sejalan banget sama agama, no need to be worried kalau dibilang ‘sok alim’ lah memang alim (berilmu) kok. 

Tapi ternyata islam nggak sesempit itu cuy.

Seorang muslim justru memang harus memiliki peran dalam keilmuan apa pun, dan profesi apa pun. Kalau aku sekarang concern di bidang komunikasi, maka jadilah ahli komunikasi yang juga berislam dengan baik. Seperti dokter Vrina yang lewat bukunya, beliau sudah me-mix and match-kan profesinya sebagai dokter dan juga perannya sebagai muslimah. Aku yakin kalian juga begitu, dengan berbagai macam minat dan keahlian, jadilah yang terbaik di bidang tersebut dengan tidak mengenyampingkan keislaman, bahkan mensinergikannya dengan baik.

Bagi yang memutuskan untuk 'berkarir' di rumah khususnya para teman-teman wanitaku, you are cool! Jangan berpikir dengan menjadi ibu rumah tangga penuh waktu adalah pemutus mimpi-mimpi kita semasa dulu. Being a fulltime mother and wife is a special role. Ada generasi yang perlu kita siapkan untuk bisa survive dan siap menjadi pembela agama Allah di masa yang akan datang, dan nggak hanya satu generasi tapi juga berdampak pada generasi berikutnya.

Canggih bener bahasa gue..

Kembali lagi, berislam itu wajib di manapun dan apapun kondisinya. Ketika kita tetap mencari ilmu-ilmu keislaman, akan semakin terbuka bahwa ternyata islam sebagai rahmatan lil ‘alamin itu terbukti. Dengan perbedaan bidang dan keahlian yang kita miliki, maka disitulah kita akan menemukan bahwa sebenarnya dalam profesi kita, ada banyak hidden verses-nya Allah yang jika kita memadukannya, aku yakin kita bisa menjadi next muslim role model di profesi masing-masing. 

Tentunya, itu semua berproses. Nggak dusta kok kalau semuanya akan berjalan mulus selembut sutra. Terlebih jika kita masih bingung akan berkarya atau berkarir di bidang apa.  Basically, berkarya di mana pun baik di rumah maupun di luar rumah itu spesial dan kita sudah diciptakan untuk memiliki peran yang berbeda. More on basically, pemahaman kita akan agama tentunya nggak bisa hanya berujung pada state of mind, tapi harus menjadi tindakan dengan memasukkan nilai-nilai keislaman pada setiap aktivitas kita. Jadilah representatif dari islam pada bidang kita. 

***
P.S.: Tulisan ini dibuat sejak tahun 2018 yang aku kira sudah pernah dipost ternyata belum, hahaha dasar pelupa! Nggak heran kalau masih ada istilah 'baca buku di kantor' yaa hihi! -18 Feb 2020-

Thank you for reading,
Best regards,

Hilya


Comments

Popular posts from this blog

my beloved sai :)

Sekolah Alam Indonesia tempat dimana aku mengahbiskan banyak waktu disini. dari kecil. dari playgroup. sampe sekarang. di tingkat tertinggi di SAI, SL 9. " sekolah alam? sekolah di utan apa hil?" "sekolahnya gimana tuh? punya kelas ga?" bener kata ka rhea. aku ga belajar di kelas. aku belajar di saung. karena kalo kelas itu identik sama ruang segiempat yang bertembok dan ada jendelanya. ada bangku, meja, meja guru dll. sedangkan sekolahku, ga ada meja guru. hehehehe. disini, aku ngga cuma belajar 2x2=4 atau, hasil akhir dr soal math, fisika, dll. tapi gimana prosesnya aku dapet jawaban itu. ga cuma kognitif, tapi akhlak juga diliat disini. dan selama aku sekolah disini, aku ga pernah bosen belajar disini. emang aku pernah bosen belajar math, ipa atau pelajaran lainnya. tapi lingkungan sekolahnya ngga pernah bikin aku bosen. the teachers. semua guru disini friendly. enak banget diajak ngobrol. sampe susah banget nge-describenya hehe.. mungkin karena belom pernah nyob...

Tentang Orangtua

Semenjak aku menjadi satu-satunya anak besar (bukan badannya) yang tinggal di rumah, aku semakin sadar bahwa sebenarnya aku ini masih jauh dari kata anak baik.  Seperti dulu waktu masih kuliah dan lagi sok-sokan menikmati peran sebagai (sok) aktifis, aku sering banget nggak izin pulang telat sama ortu. Dulu mikirnya dalam hati “gue udah gede kok, udah bisa jaga diri dan gue nggak macem-macem, kegiatan gue nggak aneh-aneh” ternyata itu semua nggak cukup saudara-saudara. Karena memang setelah itu, sering banget aku ditegur karena pulang malem. Bukan masalah pulang malemnya, tapi izinnya itu loh. Teguran pertama, aku iyain aja dan aku ikuti maunya mereka: izin setiap pulang malam. Namun itu hanya hangat di awal saja. Ke sininya, penyakit kesotoyan gue-udah-gede ini kumat kembali. Aku akhirnya mendapatkan SP 2 waktu itu which I could add a fact : terjadi adu mulut di situ. Aku yang mempertanyakan kenapa harus begini, begitu? Orangtua yang selalu punya senjata andalan “kami tuh...