Skip to main content

Medan Juang

"Kamu enak ya hil, masih single, lanjut kuliah, punya karir, dan masih bebas traveling ke mana-mana"

Katanya saat kita bertemu lagi setelah sekian lama di sebuah restoran. Ia berbicara sambil sibuk menyuapi malaikat kecilnya yang menggemaskan.

Aku tersenyum. Sesaat aku melihatnya. Sore itu, tidak hanya ia dan si kecil yang menemani kami. Sosok laki-laki tinggi kemudian datang, membawa tas perlengkapan bayi, kemudian membantu menggendong si bayi, dan mengelus kepala temanku.

"I feel peaceful in this evening", gumamku dalam hati.

"Jadi tadi yang nikah temen kantor kamu hil?" suaranya tiba-tiba membuyarkan lamunanku.
"eh iya, nikahnya deket banget loh dari sini," jawabku.
"kamu tadi berangkat sendiri atau bareng-bareng sama yang lain?"
"bareng-bareng. janjian di kantor terus kita konvoi," kembali aku menjawab
"asik ya, jadi orang kantoran"

Aku kembali tersenyum namun kali ini terasa berbeda. Perkataannya seperti memiliki makna lain.
"asik gimana nih? pasti ada suka ada dukanya lah," balasku.
"iya itu tadi. Aku kagum deh hil sama kamu, masih muda udah mandiri secara finansial, berpendidikan, bisa bebas ngapa-ngapain. lihat aku sekarang. fokus jagain si kecil, di rumah aja beberes, masak, nunggu suami pulang."

Aku semakin terkejut. Entah apa alasannya dia berkata seperti itu, tapi jujur saat itu justru aku mau menangis rasanya. Ini nggak lebay, mungkin karena orang nggak tahu aja sebenarnya tentang kehidupan aku.

"hey, look at you! you're a mom, sist! Anak kamu lucu banget." Jawabku. Aku sebenarnya nggak tahu harus merespon seperti apa.

"Kita ini ya, ternyata sama aja." aku kembali berbicara yang ia balas dengan "maksudnya?"

"iya. kamu lihat aku mandiri, bebas ke sana ke mari, punya uang, punya karir. Kamu mungkin mau ada di posisi aku. Padahal kalau kamu tau, aku ini pulang kerja setiap hari hampir tengah malam dan aku nyetir sendiri. Aku ketakutan tiap pulang kantor, karena jalanan sepi dan aku takut ada orang jahat..."

Aku memberi jeda kemudian melanjutkan,
"aku justru mau ada di posisi kamu. Kamu punya keluarga, punya suami yang siaga ada di samping kamu dan selalu ngejagain kamu. Aku juga mau dijagain kayak gitu. Look at your son, he's so cute. Aku bahkan belum tahu Allah izinkan aku punya anak atau engga. But you are now,"

Kami sama-sama tertawa dan sadar bahwa nggak ada habisnya membandingkan hidup kita dengan orang lain. Satu pelajaran penting yang aku dapat: kita punya medan juang masing-masing.

****************************************************************************

Hampir satu tahun berlalu. Banyak hal yang terjadi pada kehidupan kita berdua; dia dengan keluarganya, aku dengan kehidupanku dan karirku yang terpaksa aku lepas. Banyak orang yang kaget, banyak yang menyayangkan, banyak yang mendukung, banyak yang menanyakan kenapa. For the record, aku nggak akan menceritakan alasannya di sini, tapi mungkin aku mau coba merunut lagi beberapa kejadian yang aku rasa merupakan petunjuk dari Allah atas apa yang harus aku lakukan saat ini.

Awal tahun 2019, aku mengalami konflik besar dengan orangtua. haha kedengarannya lebay ya? tapi engga kok. Aku sampai datang ke psikolog dan berdiskusi panjang atas apa yang baru saja aku alami dan beliau berkata,

"Hilya harus kembali ke ummi dan abi. Sudah cukup masa Hilya untuk beraktivitas banyak di luar seperti dulu. Kalau toh ternyata sekarang bekerja, nggak masalah. Di samping itu, rumah adalah nomor satu ya Hilya,"


Entah kenapa perkataan ibu psikolog itu langsung jleb ke hatiku. FYI, ketika ada hal yang ternyata langsung 'jleb' di hati, itu adalah hal yang sebenarnya harus aku lakukan. Mungkin karena aku Insting, dan memang betul aku merasa naluriku kuat untuk setiap hal yang 'jleb' yang aku alami. It is what I suppose to do. 

Awal tahunku diisi dengan kekesalan, dan berbagai emosi negatif ke orangtua.
Akhir tahunku ditutup dengan makna, seberapa pun dunia menyakitiku, orangtuaku selalu ada untukku.

Buat orang-orang yang kaget mungkin akan menyayangkan atas keputusan yang kuambil terhadap karirku. Satu hal yang ingin aku sampaikan dan aku berharap ini menjadi bagian dari ikhtiarku untuk terus bisa istiqomah pada janjiku: bahwa aku yang menginginkan ini. Aku mau total berbakti kepada ummi dan abi walau aku tahu prosesnya akan sulit (dan memang sulit).

Perencanaanku adalah aku selesaikan kuliahku sambil bantu orangtua di rumah, terus lanjut daftar S2. Qadarullah ternyata skripsiku belum selesai dan aku belum bisa daftar S2 tahun ini. Beberapa kali sempat berpikir untuk cari kerja lagi, tapi hati kecil aku menolak semua. Ujung-ujungnya, aku selalu dikembalikan pada hal 'jleb' itu; kepada rumah; kepada orangtua.

Sekilas terkesan seperti menurun, di saat teman-teman mulai menanjak karirnya, aku malah di rumah. Di saat yang lain menikah, aku masih sendiri dan di rumah. Lagipula deep down, aku merasa bahwa Allah sedang mempersiapkan suatu kejutan yang membahagiakan untukku di masa depan.

Hey you know, Kalau boleh di-breakdown lagi sebenarnya ini loh jawaban dari doa yang aku sering ucapkan dari dulu. Aku ingin punya keluarga yang harmonis. Aku ingin jadi ibu yang total untuk anak-anak. Aku ingin jadi istri yang selalu sedia mendampingi suamiku. Cita-citaku kan hanya itu! dan beginilah cara Allah mengabulkan doaku. Dengan perbaikan hubungan ke orangtua. Dengan semua kegiatan yang aku lakukan dalam rangka memperbaiki birul walidain-ku yang kurang, dalam rangka mencari ridho Allah. Allah tahu banget, kalau aku nanti menikah, orangtuaku sudah bukan menjadi kewajibanku untuk berbakti. Allah nggak mau aku menyesal. Allah mau aku belajar untuk merancang keluarga madani, ya dengan aku kembali ke sini dan melihat fenomena lebih luas dan lebih menerima. Ini medan juangku.

"pernah minder dan ngerasa nggak berguna nggak hil?"

Pernah banget!
Beberapa kali suka 'iri' ketika melihat kegiatan teman-teman yang super positif. Mati gaya juga pernah dan nggak jarang. Ujian di rumah juga pernah dan bahkan rasanya pengen cepet-cepet kerja lagi. Tapi ya itu, Allah baik banget. Selalu mengingatkanku akan janjiku kepadaNya.

Ini medan juangku. Pastinya kita punya medan juang masing-masing yang nggak bisa kita compare dengan orang lain. Satu hal yang perlu kita sadari bahwa Allah nggak menciptakan peran kecil di dunia ini. Semuanya besar dan bermakna pada pos-posnya masing-masing.

Terakhir, aku jadi teringat kutipan di buku yang kubaca beberapa waktu lalu:

"kalau niat kita belum karena Allah, maka panjangkan niat kita"

Misalnya jika niat kita bekerja untuk mendapat uang, maka panjangkanlah menjadi niat bekerja untuk mendapat uang agar bisa banyak bersedekah dan mencari ridho Allah di sana. Buat yang sudah punya keluarga dan berniat membaktikan diri di rumah, maka panjangkan niat agar bisa membaktikan diri di rumah dengan terus mensyukuri nikmat Allah dan Allah ridho dengan aktivitas yang kita lakukan. Masih banyak lagi. Semuanya kembali pada niat dan cari ridho Allah di sana.

Semoga bisa menjadi pengingat kita semua ya, khususnya bagi aku pribadi.


Thank you for reading,
Best regards,


Hilya









Comments

  1. Sukaaaaaaa banget tulisan ini, you've been through so much, semoga nantinya hal2 yg terjadi hr ini bisa jd bekal mu di masa depan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thank you dhiyaa for being my support system til now <3 Aamiin, semoga doanya berbalik ke kamu yaa

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

my beloved sai :)

Sekolah Alam Indonesia tempat dimana aku mengahbiskan banyak waktu disini. dari kecil. dari playgroup. sampe sekarang. di tingkat tertinggi di SAI, SL 9. " sekolah alam? sekolah di utan apa hil?" "sekolahnya gimana tuh? punya kelas ga?" bener kata ka rhea. aku ga belajar di kelas. aku belajar di saung. karena kalo kelas itu identik sama ruang segiempat yang bertembok dan ada jendelanya. ada bangku, meja, meja guru dll. sedangkan sekolahku, ga ada meja guru. hehehehe. disini, aku ngga cuma belajar 2x2=4 atau, hasil akhir dr soal math, fisika, dll. tapi gimana prosesnya aku dapet jawaban itu. ga cuma kognitif, tapi akhlak juga diliat disini. dan selama aku sekolah disini, aku ga pernah bosen belajar disini. emang aku pernah bosen belajar math, ipa atau pelajaran lainnya. tapi lingkungan sekolahnya ngga pernah bikin aku bosen. the teachers. semua guru disini friendly. enak banget diajak ngobrol. sampe susah banget nge-describenya hehe.. mungkin karena belom pernah nyob...

Tentang Orangtua

Semenjak aku menjadi satu-satunya anak besar (bukan badannya) yang tinggal di rumah, aku semakin sadar bahwa sebenarnya aku ini masih jauh dari kata anak baik.  Seperti dulu waktu masih kuliah dan lagi sok-sokan menikmati peran sebagai (sok) aktifis, aku sering banget nggak izin pulang telat sama ortu. Dulu mikirnya dalam hati “gue udah gede kok, udah bisa jaga diri dan gue nggak macem-macem, kegiatan gue nggak aneh-aneh” ternyata itu semua nggak cukup saudara-saudara. Karena memang setelah itu, sering banget aku ditegur karena pulang malem. Bukan masalah pulang malemnya, tapi izinnya itu loh. Teguran pertama, aku iyain aja dan aku ikuti maunya mereka: izin setiap pulang malam. Namun itu hanya hangat di awal saja. Ke sininya, penyakit kesotoyan gue-udah-gede ini kumat kembali. Aku akhirnya mendapatkan SP 2 waktu itu which I could add a fact : terjadi adu mulut di situ. Aku yang mempertanyakan kenapa harus begini, begitu? Orangtua yang selalu punya senjata andalan “kami tuh...