Skip to main content

the persuasive kit


Alhamdulillahirobbil alamin puji syukur kehadirat Allah atas segala nikmatnya terkhusus nikmat karena satu penderitaan ujian telah berakhir.

Layaknya mahasiswa pada umumnya yang kuliah, dengerin dosen, dapat tugas, lalu dikumpul. Di luar kepanitiaan, kegiatan saya ya seperti itu. Tapi ternyata berbeda ketika memasuki semester ini pertama kali, di hari Jum’at jam 9:30.

 

Teknik Lobi dan Negosiasi. The kind of unique subject and seems challenging with these lobbying things. Saya juga mikirnya akan lebih banyak belajar ngomong kaya public speaking. Ya atau nyerempet sih teori aja lah gimana cara melobi dengan baik dan benar.  Pada awalnya memang teori sih. Ke sininya tugasnya makin aneh. Dan menjadi ajaib ketika tahu gimana UASnya.

Disuruh bikin benda atau kampanye program yang tingkat originalitasnya tinggi, dan harus bisa merubah perilaku hidup seseorang.

Teknik lobi dengan membuat benda.......
Mikir nggak lo? 

Untungnya tugas akhir ini emang project kelompok jadi bisa saling bantu. Kebayang kalo sendiri dengan daya imajinasi saya yang merangkak.

Alhamdulillah lagi saya dapet kelompok yang pekerja keras dan memiliki daya imajinasi maksimal, kreatif, juga mudah dihubungi sehingga membuat proses brainstorming semakin lancar.

Dari hasil brainstorming di awal semester, rencananya kami mau bikin aplikasi yang isinya seluruh daftar menu di semua kantin fakultas di UI. Biar bisa ngebantu mahasiswa yang pengen wisata kuliner tapi bingung bakal makan apa. Wii, keren lah. Udah kebayang nanti aplikasinya muncul di playstore atau kalo mujur di appstore juga. Terus di promote sama akun line info mahasiswa UI terus jadi terkenal. Sudah seoptimis itu karena memang cuman kelompok kami yang nggak bikin benda. seniat itu juga sampe udah survey ke kantin-kantin fakultas, motoin daftar menu, lokasi stand, wawancara pedagang, etc, etc. 

Secemerlang itu impian kami, semaput seketika mengetahui bahwa kami nggak nemu orang yang bisa bikin apps. I mean, setelah nongkrong di Fasilkom ternyata orang-orang yang bisa bikin apps mostly sibuk dengan proyek dosen mahapenting. And it leads to the fact that… bikin apps itu nggak gampang. Ribet banget nggak boong.
H-7 sebelum deadline project idea fix dikumpulkan, akhirnya kita ganti apps dengan web. Setidaknya masih tentang makanan. Memasuki hari H pengumpulan project idea, kita konsul lagi ke dosen. Udah pasang senyum optimis tapi kemudian malah diminta untuk bikin proyeksi website 1 tahun kedepan dengan merancang sistem yang ruwet banget kalo dijelasin di sini (ya sebenernya gue sih udah lupa waktu itu dia ngomong apaan) pokonya bikin semua kepala kita sakit. Hati apalagi. Ini sih nggak bisa dilanjut. Harus ganti project. Di hari H deadline. 

and we're dead in line ._.

to be continue.

thank you for reading,
best regards,

hilya

Comments

Popular posts from this blog

my beloved sai :)

Sekolah Alam Indonesia tempat dimana aku mengahbiskan banyak waktu disini. dari kecil. dari playgroup. sampe sekarang. di tingkat tertinggi di SAI, SL 9. " sekolah alam? sekolah di utan apa hil?" "sekolahnya gimana tuh? punya kelas ga?" bener kata ka rhea. aku ga belajar di kelas. aku belajar di saung. karena kalo kelas itu identik sama ruang segiempat yang bertembok dan ada jendelanya. ada bangku, meja, meja guru dll. sedangkan sekolahku, ga ada meja guru. hehehehe. disini, aku ngga cuma belajar 2x2=4 atau, hasil akhir dr soal math, fisika, dll. tapi gimana prosesnya aku dapet jawaban itu. ga cuma kognitif, tapi akhlak juga diliat disini. dan selama aku sekolah disini, aku ga pernah bosen belajar disini. emang aku pernah bosen belajar math, ipa atau pelajaran lainnya. tapi lingkungan sekolahnya ngga pernah bikin aku bosen. the teachers. semua guru disini friendly. enak banget diajak ngobrol. sampe susah banget nge-describenya hehe.. mungkin karena belom pernah nyob...

Tentang Orangtua

Semenjak aku menjadi satu-satunya anak besar (bukan badannya) yang tinggal di rumah, aku semakin sadar bahwa sebenarnya aku ini masih jauh dari kata anak baik.  Seperti dulu waktu masih kuliah dan lagi sok-sokan menikmati peran sebagai (sok) aktifis, aku sering banget nggak izin pulang telat sama ortu. Dulu mikirnya dalam hati “gue udah gede kok, udah bisa jaga diri dan gue nggak macem-macem, kegiatan gue nggak aneh-aneh” ternyata itu semua nggak cukup saudara-saudara. Karena memang setelah itu, sering banget aku ditegur karena pulang malem. Bukan masalah pulang malemnya, tapi izinnya itu loh. Teguran pertama, aku iyain aja dan aku ikuti maunya mereka: izin setiap pulang malam. Namun itu hanya hangat di awal saja. Ke sininya, penyakit kesotoyan gue-udah-gede ini kumat kembali. Aku akhirnya mendapatkan SP 2 waktu itu which I could add a fact : terjadi adu mulut di situ. Aku yang mempertanyakan kenapa harus begini, begitu? Orangtua yang selalu punya senjata andalan “kami tuh...