Skip to main content

the persuasive kit -end-

terkadang keadaan terpaksa membuat kita lebih banyak berpikir dan peka terhadap sekitar.

it was 30 minutes before the class end. dan kami masih nggak tahu harus bikin apa. udah nggak ada motivasi juga kan jadi makin bingung. satu menit. blank. dua menit. muter-muter kepala nyari inspirasi. lalu entah bagaimana hidayah ini datang, ada seseorang yang mengusulkan ide yang
...nggak ada yang bikin senang selain tetap maju ke dosen dan ternyata... yes yess! he said yes!



maap, kami mahasiswa dengan kamera seadanya yang sedang
menghibur diri sejenak menyingkirkan segala kejelimetan ide yang tak kunjung datang.
Saat.itu.juga.
5 minutes before jumatan and we were here. menghadap mas dosen untuk presentasi singkat ide baru kami. ya walaupun setelah officially diterima beliau ngoceh bermilyar-milyar kata sambutan dulu sebagai saran pengembangan project. ah terserah deh dia mau ngomong apaan yang jelas otak dan mental ini udah lega banget. hasil pemikiran setengah jam yang berujung pada satu nama.

BOOK-SELF.

terinspirasi dari kata bookshelf yang artinya rak buku. yes, kami membuat rak buku portable dari bahan kanvas yang memang bisa dijadikan sling bag. 

why we chose the 'self' word was because we wanted the owner had a sense of belonging about this thing, which can be carried wherever he/she goes. 

begitulah hasil pemikiran kami untuk bahan presentasi UAS matkul ini.

as i mentioned  in the previous page, UAS kami ini adalah membuat produk. tapi nggak hanya sampai di situ (ternyata). untuk mengambil nilai individu, setiap orang harus mempresentasikan produknya. seperti sales gitu deh. jadi nanti UAS ini adalah rangkaian dari awal November sampai awal Desember. Setiap Jumat jam 9:30 sampai jam kuliah ini berakhir, kita hanya mendengar orang-orang presentasi dan menilai sendiri bagaimana bentuk presentasi mereka. yang bikin saya realize bahwa inti dari matkul ini adalah presentation and persuasive skill. itu ternyata sisi komunikasi yang saya sadar instead of bikin produk yang nggak ada komunikasi-komunikasinya sama sekali.


book-self hasil kerjasama dengan abang penjahit kutek


pada waktu persiapan presentasi, saya nggak tau lagi kelompok emang benar-benar pengen maksimal di setiap presentasinya. kita selalu menyempatkan menginap di rumah atau kosan siapa gitu tiap malem jumat untuk membantu yang besoknya kedapetan presentasi. begitu terus sampai akhirnya semua presentasi selesai.  puncak dari rangkaian UAS ini adalah exhibition seluruh produk dari semua kelompok. bahkan kelompok dari kelas sebelah juga ikutan. kebayang  100+ mahasiswa PR 2014 dan juri tamu tumpah ruah di lobi. nggak kalah ganas sama gerbong kereta wanita di rush hour. 

the exhibition day

7 Desember 2015. semua orang sibuk sama kelompoknya, mendekor stand. Book-selfer juga sama kok. cuman standnya nggak seramai kelompok lain huhu syedih :( ohiya di exhibition ini nantinya bakal ada penguji dari humas-humas fakultas yang ada di UI. ditambah perwakilan dari luar (bisa mahasiswa jurusan lain, atau dari univ lain) yang bakal nanya-nanya cerewet. 

the exhibition has just begun. stand book-self masih sepi. kebanting sama dekor stand-stand di sebelahnya :( terus tiba-tiba segerombolan mbak-mbak dan mas-mas datang. nanya kegunaan, inspirasi, dijual apa kaga, harga, status, etc etc. yang berakhir pada "ini yang navy saya pesen ya. nanti saya datang lagi. jangan sampe diambil orang" 
....
......
............
subhanallah walhamdulillah allahu akbar.  gue malah mikirnya siapa juga yang mau beli tas kecil dengan harga 90rebu? 

eh ada ._.

dan si mbak-mbak itu beneran beli ya allah sampe dia pergi tadi aja saya mikirnya ah cuma becanda. temen-temen juga percaya nggak percaya tapi lebih ke nggak percayanya. tapi dia beneran dateng lagi :') tau kan gimana rasanya hasil pemikiran lo dan kelompok diapresiasi bahkan dibayar? we're on that feel.

exhibition ini akhirnya berakhir juga jam 12 kurang. nggak tau lagi gimana kabarnya tenggorokan ini harus adu teriak sama 100+ orang. finally it's done. and finally, book-self got the 5 best product versi pendatang! tenggorokan yang tadinya sudah loyo mendadak bisa teriak kencang kesenangan. haaa akhirnya ya guys, ide setengah jam sebelum deadline ditutup ini ada hasilnya :) manis pula.

terkadang keadaan terpaksa membuat kita lebih banyak berpikir dan peka terhadap sekitar.
dan membuat kita lebih mau bekerja keras, dengan sukarela.

book selfer! Hilya-Fadel-Meisa-Jo-Wawa-Mita-Fitri-Icha


thank you for reading,
best regards,


hilya and book-selfer

Comments

Popular posts from this blog

my beloved sai :)

Sekolah Alam Indonesia tempat dimana aku mengahbiskan banyak waktu disini. dari kecil. dari playgroup. sampe sekarang. di tingkat tertinggi di SAI, SL 9. " sekolah alam? sekolah di utan apa hil?" "sekolahnya gimana tuh? punya kelas ga?" bener kata ka rhea. aku ga belajar di kelas. aku belajar di saung. karena kalo kelas itu identik sama ruang segiempat yang bertembok dan ada jendelanya. ada bangku, meja, meja guru dll. sedangkan sekolahku, ga ada meja guru. hehehehe. disini, aku ngga cuma belajar 2x2=4 atau, hasil akhir dr soal math, fisika, dll. tapi gimana prosesnya aku dapet jawaban itu. ga cuma kognitif, tapi akhlak juga diliat disini. dan selama aku sekolah disini, aku ga pernah bosen belajar disini. emang aku pernah bosen belajar math, ipa atau pelajaran lainnya. tapi lingkungan sekolahnya ngga pernah bikin aku bosen. the teachers. semua guru disini friendly. enak banget diajak ngobrol. sampe susah banget nge-describenya hehe.. mungkin karena belom pernah nyob...

Tentang Orangtua

Semenjak aku menjadi satu-satunya anak besar (bukan badannya) yang tinggal di rumah, aku semakin sadar bahwa sebenarnya aku ini masih jauh dari kata anak baik.  Seperti dulu waktu masih kuliah dan lagi sok-sokan menikmati peran sebagai (sok) aktifis, aku sering banget nggak izin pulang telat sama ortu. Dulu mikirnya dalam hati “gue udah gede kok, udah bisa jaga diri dan gue nggak macem-macem, kegiatan gue nggak aneh-aneh” ternyata itu semua nggak cukup saudara-saudara. Karena memang setelah itu, sering banget aku ditegur karena pulang malem. Bukan masalah pulang malemnya, tapi izinnya itu loh. Teguran pertama, aku iyain aja dan aku ikuti maunya mereka: izin setiap pulang malam. Namun itu hanya hangat di awal saja. Ke sininya, penyakit kesotoyan gue-udah-gede ini kumat kembali. Aku akhirnya mendapatkan SP 2 waktu itu which I could add a fact : terjadi adu mulut di situ. Aku yang mempertanyakan kenapa harus begini, begitu? Orangtua yang selalu punya senjata andalan “kami tuh...