Skip to main content

mereka bilang aku ngenes karena jomblo

ish padahal sebenernya aku mau cerita. jadi….
Ada satu wilayah yang di sana terdapat dua buah benteng bersejarah. letak kedua benteng tersebut berdekatan tapi tidak berhadapan. terpisah beberapa blok saja. 
benteng pertama masih terlihat gagah walaupun usianya terlihat seperti sudah satu abad. Benteng tersebut tidak terlalu tinggi dan mengelilingi sebuah istana. biasanya benteng ini terlihat ramai di sore hari ataupun hari-hari libur. tapi sebenarnya, setiap saat benteng ini pasti ada yang mengunjungi. 

benteng kedua juga tidak kalah gagahnya namun terlihat sepi karena benteng ini benar-benar tinggi menjulang. sepertinya sedikit orang yang melirik ke benteng itu karena memang ga ada daya tarik yang bisa membuat orang ingin berkunjung, even sekadar berfoto. beberapa pengunjung yang datang selalu menanyakan asal muasal dan mengapa benteng tersebut dibuat sangat tinggi? namun tak ada yang dapat memberikan penjelasan pasti. masyarakat terlihat masa bodoh. toh, benteng di sebelah sana lebih indah dan istananya lebih mudah diakses. 
suatu hari, ada seorang prajurit yang datang ke wilayah tersebut. ia melihat dua benteng dan memutuskan untuk mengunjungi benteng tinggi menjulang itu. seperti pengunjung lainnya, ia mencari sebanyak info mengenai benteng ‘tak jelas asal usulnya’ ini. namun apa daya, ia hanya mendapatkan info bahwa benteng ini sudah sejak lama dan ada mitos yang beredar bahwa benteng ini menyimpan kutukan.
akhirnya prajurit itu pergi.
namun ternyata sepanjang perjalanan, ia memikirkan informasi benteng tak jelas tersebut. semakin ia memikirkannya, semakin tertantang dirinya untuk mencari info lanjut mengenai benteng tersebut. ia tak takut akan mitos yang beredar. bagaimanapun ia harus bisa melihat ke dalam benteng tersebut.
segala hal mulai disiapkan oleh sang prajurit. mulai dari mengasah pedang, membuat baju besi baru, hingga mencari sumber di perpustakaan mengenai sejarah wilayah benteng tersebut. saat dirasa persiapan sudah mumpuni, ia pun kembali ke wilayah ‘benteng-tak-jelas’ tersebut.
dengan segala amunisi yang ia punya, ia mulai memanjat benteng tersebut. perlahan tapi pasti, akhirnya ia sampai di puncak benteng. sang prajurit terdiam dan tersenyum. ternyata selama ini sang benteng-tak-jelas sedang melindungi istana yang sangat indah dan terawat. semua terlihat masih murni, belum ada sentuhan. sepertinya pembuatnya sengaja membangun istana ini untuk seseorang yang berjuang keras. sepertinya juga pembuatnya sadar bahwa istana seindah ini harus didapatkan melalui perjuangan keras dan di atas tangan serta otak orang-orang terpilih. betapa senangnya sang prajurit. ia pun berpikir untuk selalu menjaga istana ini, dan tak mengizinkan siapapun menyentuhnya dengan kasar.
well, cerita di atas hanyalah sebuah analogi dari hubungan laki-laki dengan perempuan. kedua benteng tersebut ibarat perempuan. ketika perempuan membuka ‘benteng pelindung’nya, maka sebenarnya ia mulai kehilangan harga dirinya. dia membolehkan siapapun dapat masuk dan merasakan keindahan istananya. lalu seperti pengunjung, orang-orang tersebut pergi karena memang harus pulang ke rumah masing-masing. lalu kita lihat benteng kedua. sekilas memang tidak ada daya tarik yang mengundang pengunjung untuk datang. hingga akhirnya seorang prajurit yang penasaran dan memutar otak untuk dapat menaklukan benteng tersebut. kita lihat bagaiman niat besar sang prajurit akhirnya berujung pada persiapan yang matang sampai di waktu ia akhirnya melakukan aksinya. 
benteng yang tinggi melindungi istana yang suci. 
tak semua orang ingin memanjat untuk sekedar mengetahui. hanya yang penuh persiapan yang berani menembus keangkuhan benteng. di balik benteng tinggi wanita, sesungguhnya ia menunggu seorang prajurit yang penuh persiapan untuk menghampirinya dan menjaganya. karena di balik benteng, ia sudah menyiapkan istana terbaik :)

selamat meninggikan benteng untuk prajurit masa depan teman-temanku :) semoga kita selalu dikuatkan.

best regards,

-yang juga sedang berusaha meninggikan benteng-

Comments

Popular posts from this blog

my beloved sai :)

Sekolah Alam Indonesia tempat dimana aku mengahbiskan banyak waktu disini. dari kecil. dari playgroup. sampe sekarang. di tingkat tertinggi di SAI, SL 9. " sekolah alam? sekolah di utan apa hil?" "sekolahnya gimana tuh? punya kelas ga?" bener kata ka rhea. aku ga belajar di kelas. aku belajar di saung. karena kalo kelas itu identik sama ruang segiempat yang bertembok dan ada jendelanya. ada bangku, meja, meja guru dll. sedangkan sekolahku, ga ada meja guru. hehehehe. disini, aku ngga cuma belajar 2x2=4 atau, hasil akhir dr soal math, fisika, dll. tapi gimana prosesnya aku dapet jawaban itu. ga cuma kognitif, tapi akhlak juga diliat disini. dan selama aku sekolah disini, aku ga pernah bosen belajar disini. emang aku pernah bosen belajar math, ipa atau pelajaran lainnya. tapi lingkungan sekolahnya ngga pernah bikin aku bosen. the teachers. semua guru disini friendly. enak banget diajak ngobrol. sampe susah banget nge-describenya hehe.. mungkin karena belom pernah nyob...

Tentang Orangtua

Semenjak aku menjadi satu-satunya anak besar (bukan badannya) yang tinggal di rumah, aku semakin sadar bahwa sebenarnya aku ini masih jauh dari kata anak baik.  Seperti dulu waktu masih kuliah dan lagi sok-sokan menikmati peran sebagai (sok) aktifis, aku sering banget nggak izin pulang telat sama ortu. Dulu mikirnya dalam hati “gue udah gede kok, udah bisa jaga diri dan gue nggak macem-macem, kegiatan gue nggak aneh-aneh” ternyata itu semua nggak cukup saudara-saudara. Karena memang setelah itu, sering banget aku ditegur karena pulang malem. Bukan masalah pulang malemnya, tapi izinnya itu loh. Teguran pertama, aku iyain aja dan aku ikuti maunya mereka: izin setiap pulang malam. Namun itu hanya hangat di awal saja. Ke sininya, penyakit kesotoyan gue-udah-gede ini kumat kembali. Aku akhirnya mendapatkan SP 2 waktu itu which I could add a fact : terjadi adu mulut di situ. Aku yang mempertanyakan kenapa harus begini, begitu? Orangtua yang selalu punya senjata andalan “kami tuh...