Skip to main content

baksos & tarhib story #2 -end-

Friday, August 06 2010

Sometimes, the first step is difficult to start. Untuk aku, mungkin itu bener. Masih mungkin! Soalnya kadang aku suka bingung sendiri mau mulai darimana dan dengan apa? Hari ini juga aku harus bener2 make the step simple and easy karena dikejar waktu! Langsung aja tuh, abis sarapan, aku langsung bantuin ngangkat meja, dan nyiapin denah baksos. Agak rumit awalnya, tapi lama2 jd biasa hehe.. harus ngecek siapa aja yang tugas. Untung Thia ngebantu! Trus juga harus ngatur anak kelas 5 dan 6 yang suka main2 sendiri, padahal masih ada yg harus dikerjain. Aku sih nggak ngelarang mereka main, tapi aku pengen mereka juga ngebantu -.-“ ternyata it’s more difficult!


Alhamdulillah, baksosnya lancar. Walaupun tadi sih sempet ada yang nggak tau masuknya dimana (thx to bagian keamanan) trus ada juga yang protes karena nggak dapet kupon, ada juga yang harusnya masuk di jam subsidi, malah ngantri pas masih bagi2in sembako yang free bahkan ada yang mau ngambil sembako, pas anak2 udh pada pulang! Hahaha! Not bad at all. Hehe~ sukses kok :D thx to all ^.^!


Emang deh, aku sih harus banyak2 bersyukur banget karena nggak kayak mereka (yg dpt sembako). Baksos tadi aku yakin banget pasti ngebantu mereka. At least, until Ramadhan comes :D they really need the foods but sometimes, I don’t care with it. Perceiving the baksos program today give me a life lesson about sharing anything we have more to each other who need it. Life is not about how to breathe, how to study at ur school. It’s about learn and share. We learn and we share it. It’s about respect, it’s about appreciate something God has given to you. And to hand out the food pack like baksos, will give us so much things to learn and share.

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

my beloved sai :)

Sekolah Alam Indonesia tempat dimana aku mengahbiskan banyak waktu disini. dari kecil. dari playgroup. sampe sekarang. di tingkat tertinggi di SAI, SL 9. " sekolah alam? sekolah di utan apa hil?" "sekolahnya gimana tuh? punya kelas ga?" bener kata ka rhea. aku ga belajar di kelas. aku belajar di saung. karena kalo kelas itu identik sama ruang segiempat yang bertembok dan ada jendelanya. ada bangku, meja, meja guru dll. sedangkan sekolahku, ga ada meja guru. hehehehe. disini, aku ngga cuma belajar 2x2=4 atau, hasil akhir dr soal math, fisika, dll. tapi gimana prosesnya aku dapet jawaban itu. ga cuma kognitif, tapi akhlak juga diliat disini. dan selama aku sekolah disini, aku ga pernah bosen belajar disini. emang aku pernah bosen belajar math, ipa atau pelajaran lainnya. tapi lingkungan sekolahnya ngga pernah bikin aku bosen. the teachers. semua guru disini friendly. enak banget diajak ngobrol. sampe susah banget nge-describenya hehe.. mungkin karena belom pernah nyob...

Tentang Orangtua

Semenjak aku menjadi satu-satunya anak besar (bukan badannya) yang tinggal di rumah, aku semakin sadar bahwa sebenarnya aku ini masih jauh dari kata anak baik.  Seperti dulu waktu masih kuliah dan lagi sok-sokan menikmati peran sebagai (sok) aktifis, aku sering banget nggak izin pulang telat sama ortu. Dulu mikirnya dalam hati “gue udah gede kok, udah bisa jaga diri dan gue nggak macem-macem, kegiatan gue nggak aneh-aneh” ternyata itu semua nggak cukup saudara-saudara. Karena memang setelah itu, sering banget aku ditegur karena pulang malem. Bukan masalah pulang malemnya, tapi izinnya itu loh. Teguran pertama, aku iyain aja dan aku ikuti maunya mereka: izin setiap pulang malam. Namun itu hanya hangat di awal saja. Ke sininya, penyakit kesotoyan gue-udah-gede ini kumat kembali. Aku akhirnya mendapatkan SP 2 waktu itu which I could add a fact : terjadi adu mulut di situ. Aku yang mempertanyakan kenapa harus begini, begitu? Orangtua yang selalu punya senjata andalan “kami tuh...