Skip to main content

Tawakkal Akhir 2022: Menyerahkan Masa Lalu

Hi Fellas!

Sudah lama banget ya nggak silaturahmi ke sini. Beberapa bulan ini memang sedang banyak yang dipersiapkan. Sampai sekarang pun masih, tapi sepertinya jiwa-jiwa curhat ini sudah mulai memberontak. So, let's refresh this mind first by updating some of my life story here.

Masih soal tema hidup, hehe.

Aku kira memasuki tiga bulan terakhir di 2022 bisa lebih santai sambil menyimpulkan pesan utama apa yang didapat dari menjalani tema tawakkal. I had some lists, though. Tapi ternyata tepat di bulan terakhir, aku malah sakit. Satu bulan lebih sampai awal 2023, wkwk. Lucunya lagi, sakit ini sangaaaat berhubungan dengan pikiran. Loh, aku yang merasa 2022 kemarin bebas dan merdeka jadi bingung, apa dalam hati ternyata ada yang belum tuntas?

Jawabannya baru aku dapatkan di bulan-bulan awal 2023 ini. 

Menariknya, benang merah terakhir yang aku dapatkan dari menjalani tawakkal adalah berkaitan dengan sebuah konsep yang aku pelajari juga di pertengahan tahun lalu. Tentang vulnerability atau kerentanan. 

Vulnerability ini konsep yang dibawakan oleh Brene Brown dan bermakna penerimaan, keberanian untuk mengakui dan terlihat ketika kita merasa kesulitan atau bahkan gagal mendapatkan dan mengontrol hasil yang diinginkan. 

Dalam kasus aku, menjadi vulnerable berarti berani untuk membongkar luka-luka lama, menariknya satu per satu, dan perlahan mengakui bahwa ini menyakitkan, menyeramkan, dan membuat aku nggak berdaya. Tanpa aku sadari bahwa ketidakberdayaan aku dalam mengontrol hal-hal pedih di masa lalu  ternyata menjadi pelajaran pamungkas tentang tawakkal yang ingin Allah ajarkan. 

Selama setahun lalu, aku hanya berfokus bagaimana menjadi tawakkal untuk rencana yang belum terlaksana, tetapi aku lupa bahwa tidak tuntasnya emosi negatif masa lalu juga harus aku serahkan.


Kayaknya pesan dari Allah, pengennya aku tuh nggak hanya berfokus pada perencanaan masa depan, tapi endapan-endapan masa lalu itu nggak luput dari kuasa Allah untuk Ia bantu selesaikan. Tapi ya ini mana kepikiran sebelum-sebelumnya? 😂.  Mungkin memang harus begini supaya hidup aku lebih tenang. 

Dari sana akhirnya aku merasa bahwa sekarang aku bisa meregulasi emosi dengan lebih baik, apalagi terhadap hal-hal yang di luar kendali. Aku memang merasa sedih untuk rencana-rencana yang belum terwujud, dan menyepelekan emosi masa lalu. Tetapi alhamdulillah ternyata aku tidak kecewa. At least, untuk saat ini. Selalu berharap semoga aku bisa tetap percaya 100% dengan apa yang Allah berikan. 

Butuh waktu beberapa bulan di awal tahun ini untuk menyimpulkan apa payung besar dari yang aku dapatkan tentang ketawakkalan. Buatku, membuka kembali masa lalu dan tidak kecewa dengan apa yang sudah Allah takdirkan untuk masa depan adalah sebuah milestone besar dengan proses tersulit selama hidup. Walau memang akhirnya, untuk saat ini, hasilnya sangat menenangkan. Aku belum pernah merasa setenang ini menghadapi banyak ketidakpastian dalam hidupku. 

Proses pembelajaran ini nggak akan berhenti di tahun 2023. Memang temaku untuk tahun ini sudah berubah, tetapi semua pelajaran yang aku dapatkan dari tahun lalu akan terus aku tambah. Walau sebenarnya akan terus diuji sih selama masih mendapatkan ujian hidup -which is forever till die-. Nggak masalah, yang penting aku bisa dikasih hidayah biar bisa baca semua petunjuk dan pelajaran dariNya. Supaya bisa dishare juga di sini buat teman-temanku biar kita tumbuh sama-sama 💕

Thank you for reading,

Best regards,

Hilya


Comments

Popular posts from this blog

my beloved sai :)

Sekolah Alam Indonesia tempat dimana aku mengahbiskan banyak waktu disini. dari kecil. dari playgroup. sampe sekarang. di tingkat tertinggi di SAI, SL 9. " sekolah alam? sekolah di utan apa hil?" "sekolahnya gimana tuh? punya kelas ga?" bener kata ka rhea. aku ga belajar di kelas. aku belajar di saung. karena kalo kelas itu identik sama ruang segiempat yang bertembok dan ada jendelanya. ada bangku, meja, meja guru dll. sedangkan sekolahku, ga ada meja guru. hehehehe. disini, aku ngga cuma belajar 2x2=4 atau, hasil akhir dr soal math, fisika, dll. tapi gimana prosesnya aku dapet jawaban itu. ga cuma kognitif, tapi akhlak juga diliat disini. dan selama aku sekolah disini, aku ga pernah bosen belajar disini. emang aku pernah bosen belajar math, ipa atau pelajaran lainnya. tapi lingkungan sekolahnya ngga pernah bikin aku bosen. the teachers. semua guru disini friendly. enak banget diajak ngobrol. sampe susah banget nge-describenya hehe.. mungkin karena belom pernah nyob...

Tentang Orangtua

Semenjak aku menjadi satu-satunya anak besar (bukan badannya) yang tinggal di rumah, aku semakin sadar bahwa sebenarnya aku ini masih jauh dari kata anak baik.  Seperti dulu waktu masih kuliah dan lagi sok-sokan menikmati peran sebagai (sok) aktifis, aku sering banget nggak izin pulang telat sama ortu. Dulu mikirnya dalam hati “gue udah gede kok, udah bisa jaga diri dan gue nggak macem-macem, kegiatan gue nggak aneh-aneh” ternyata itu semua nggak cukup saudara-saudara. Karena memang setelah itu, sering banget aku ditegur karena pulang malem. Bukan masalah pulang malemnya, tapi izinnya itu loh. Teguran pertama, aku iyain aja dan aku ikuti maunya mereka: izin setiap pulang malam. Namun itu hanya hangat di awal saja. Ke sininya, penyakit kesotoyan gue-udah-gede ini kumat kembali. Aku akhirnya mendapatkan SP 2 waktu itu which I could add a fact : terjadi adu mulut di situ. Aku yang mempertanyakan kenapa harus begini, begitu? Orangtua yang selalu punya senjata andalan “kami tuh...