Hi Fellas!
Nggak terasa sudah memasuki November nih. Sebentar lagi menuju dua puluh tujuh tahun 2023, pasti sudah ada yang bersiap juga buat ngejar target kerjaan akhir tahun, cuti panjang, dan bahkan menyiapkan resolusi untuk tahun depan.
Buatku sendiri, momen akhir tahun adalah salah satu part terbaik dan juga tersedih; di satu sisi umurku bertambah tepat di penghujung tahun, di sisi lain momen ulang tahun itu sekaligus mengingatkanku tentang target-target di tahun tersebut. Kalo sekarang lebih ke evaluasi tema hidup.
Setelah revealing ke publik tentang caraku hidup dengan tema di tiap tahunnya, aku selalu dapat pertanyaan. Literally, tiap ketemu orang atau ngobrol online sama orang, mereka selalu nanya "Gimana sih hil, tentang tema-tema itu? kok bisa bikin tema?" sampai ke pertanyaan yang cukup berat kayak "apakah setelah satu tahun berlalu, kamu bener-bener udah menguasai tema tersebut?"
Ada satu kondisi di mana aku agak takut juga dengan ekspektasi orang-orang soal cara hidupku ini. Bukan bermaksud apa-apa, tapi banyak juga yang memberikan apresiasi yang menurutku seolah-olah kayak aku udah pro banget dalam menjalani kehidupan atau ketika dapat masalah. Salah satunya ya dengan tema hidupku tahun ini: Tawakkal. Mungkin karena aku cukup intens sharing beberapa insight soal tawakkal dalam kejadian hidupku sehari-hari yang bikin orang jadi mengira kalo aku udah khatam banget nih.
Padahal sampai detik ini aku juga masih struggling, kok. Berat loh itu. Berat banget....
Merujuk ke pertanyaan berat di atas, I would say dengan satu kata: nope. Aku tidak 100% menguasai tema hidup yang aku pasang di tahun tersebut, dan aku sangat mensyukurinya karena tidak benar-benar paham. Nanti aku ceritakan.
![]() |
| Evaluasi tema hidup; harus spare waktu sendiri di tempat yang tenang |
Setiap akhir tahun (tepatnya di hari ulang tahunku), aku coba melakukan evaluasi dari temaku (ini nanti aku jabarkan di post yang berbeda yaa). Dari evaluasi tersebut, yang aku ukur HANYA seberapa jauh progress Hilya dari yang sebelumnya? Apakah sudah memahami konsep fundamentalnya atau lebih di atas itu? Apa impact-nya? Apa buktinya?
Lalu terkait apresiasi para warga yang masya Allah-nya selalu ngikutin micro-blog aku di Instagram, Whatsapp status, dan Twitter tentang pelajaran Tawakkal. Kayaknya hidupnya Hilya setiap hari udah terasosiasi banget sama Tawakkal, jadi kalo ada satu kejadian, pasti dikaitin. Respon aku: Yes, true. Memang harus dikaitkan, digali apakah ada makna tersembunyi yang berhubungan dengan tema hidup kita tahun itu?
And surprisingly, it always has connections. Coba aja.
Tapi apakah itu semua akhirnya membuat aku jadi paham banget dan merasa puas dengan tema hidup di tahun tersebut? Jawabannya adalah, nggak juga.
Seperti tema Tawakkal ini yang mungkin lebih banyak aku gaungkan di medsos dibandingkan tema-tema hidupku di tahun-tahun sebelumnya. Aku pun masih terus berjuang untuk mencari tahu lebih dalam tentang ilmu Tawakkal dan juga mencoba menginternalisasinya ke dalam diri aku.
Easier said than done. I'm just a woman with flaws, but that what makes me a truly human being.
Sampai detik aku menuliskan ini pun, masih ada beberapa target hidupku yang masih aku perjuangkan untuk benar-benar Tawakkal 100% kepada Allah. There has been times ketika aku pengen ngatur dan take action sesuai yang aku inginkan, bukan untuk mendahulukan Allah, tetapi untuk menenangkan hatiku yang ternyata, pemahamanku soal take action ini masih salah juga. Karena sekali coba 'ngatur', eh malah keterusan dan percaya sama belief sendiri, padahal balik lagi syarat Tawakkal adalah: don't rule anything. Iya sih, tawakkal kok. Tapi kan harus ada ikhtiarnya dulu. Lalu kemudian muncul pertanyaan "bagaimana bentuk ikhtiarnya? apakah ikhtiar kita sudah tetap beriringan dengan tawakkal?" Coba kalian bacanya aja pusing kan? karena konsep ini sangat abstrak wkwk. Makanya, sampai detik ini pun aku masih bertempur dengan akal sehat. Nggak semuanya harus dirasionalisasikan.
Itu contoh aja di konsep Tawakkal.
Tahun lalu saat tema hidupuku adalah resilience (daya tahan/kekuatan), sama kok. Suka tiba-tiba banyak pertanyaan di kepala, "seberapa jauh aku harus bertahan di dalam kondisi yang sulit? kalo berhenti, apakah artinya aku gagal menjadi seorang yang pain tolerance-nya tinggi?" nahloh wkwk.
Sekali lagi, aku selalu menyisakan ruang untuk tidak memahami seluruhnya. Ini beda yaa dengan belajar yang tidak total. Menyisakan ruang berarti menyiapkan mental bahwa selama hidup, kita akan terus mempelajari hal-hal baru yang berkaitan dengan tema-tema tersebut, walaupun di tahun itu, kita sudah move ke tema yang lain.
Lalu bagaimana jika suatu saat kita 'diuji' dengan tema hidup kita? Misal yang belajar tawakkal tiba-tiba galau soal urusan x; yang lagi belajar resilience jadi malah nyiksa diri sendiri karena merasa itu belum menunjukan endurance yang dia miliki.
Kalo dari pengalamanku adalah: menginternalisasi tema hidup kita setiap hari itu penting. Coba untuk dilisankan,
aku sedang belajar tawakkal tahun ini, tawakkal berarti kamu nggak usah ngatur apapun hil cukup lakukan yang ada di depan mata. Perbanyak doa dan minta pertolongan Allah. Allah tahu kamu nggak sempurna, dan Dia nggak minta kamu jadi sempurna. Dia hanya ingin kamu minta dan percaya.
Percaya deh, kita nggak akan pernah menjalani tema hidup di setiap tahunnya dengan mulus. Malah sering terjadi di aku, ujian-ujian hidupku di tahun tersebut sebenarnya adalah bentuk pengajaran Allah ke aku tentang tema yang aku pasang. Ujian resilience dengan arena 'perang' rentetan kejadian yang bikin nangis darah yang nggak pernah terbayangkan sebelumnya. Ujian tawakkal adalah dengan membenturkan keinginan-keinginan kita dengan realita yang nggak sejalan. Masih banyak lagi. Jadi, bagus banget kalo kita merasa nggak nyaman dalam menjalaninya.
Personally, ada beberapa hal besar yang aku targetkan untuk tawakkal sepenuhnya. Satu hal besar lagi yang saat ini masih menggantung di aku yang ternyata Allah bukakan juga di 3 bulan terakhir tahun ini, jadi semacam turning point lah. Harapannya sampai akhir tahun nanti, turning point ini bisa menjadi langkah-langkah baru untuk mempercayakan hal ini kepada Allah 100%. Aku yakin, setelah aku 'berhasil' menyerahkan sepenuhnya, Allah pasti kasih hadiah; yang selalu aku tunggu-tunggu setiap harinya. Doain aku yaah 😆✌
Semangat terus buat kita semua! Udah ada beberapa nih yang cerita tentang tema hidupnya bahkan ada juga yang bikin temanya per bulan! Wow keren sih! Aku tunggu cerita tema hidup kalian dan keajaiban yang didapat setelah menjalaninya.
Thank you for reading,
Best regards,
Hilya

.jpg)
Tema hidup itu ditentuin di awal tahun hil?
ReplyDelete