Skip to main content

Dua Jari Mungil Penentu Keseharian

Hai Fellas! 

Gimana kabarnya setelah beberapa bulan quarantine? I can't even remember how long the quarantine has gone, hahaha. Tapi yang paling penting semoga semuanya sehat-sehat selalu ya, nggak usah bepergian kalau memang nggak perlu, dan kalau terpaksa harus keluar rumah, patuhi protokol kesehatan.

Well, life update di tahun ini mostly stagnan ya karena #dirumahaja. Tapi nggak seru ah kalo hidup selalu stabil. Even in quarantine phase, Allah akan selalu kasih kejutan supaya kita juga nggak bosan dan terus bersyukur terhadap nikmat Allah. 

Mine was my fingers story

Sejak awal pandemi, jari telunjuk kiriku memang udah bermasalah sih. Asumsiku karena nggak cocok sama deterjen gitu, jadi jarinya gatal-gatal, iritasi, dan kulitnya mengelupas. Perih-perih sedap gimanaa gitu tapi kalo nggak nyuci kan susah juga ya. Karena waktu itu masih heboh PSBB dan riskan juga kalau ke dokter, akhirnya aku coba konsul di halodoc untuk pertama kali. Ternyata benar dugaanku, si telunjuk ini alergi sabun cuci. Terus dikasih resep obat tapi dasar aku anaknya konvensional, aku masih takut gitu buat beli obat minum dari hasil konsultasi online wkwk. At the end of the day, aku cuma beli salepnya aja. 

Seiring berjalannya waktu, jari telunjuk ini nggak menunjukan adanya perbaikan dan aku tetap mencuci. Perih dan gatal tapi ditahan-tahanin dulu karena mau ke rumah sakit juga masih ngeri. Nggak hanya itu, ternyata sakitnya menyebar ke jari tengah kanan. Finally, sudah nggak kuat karena perih mau ngapa-ngapain akhirnya ke dokter langganan dekat rumah (yang alhamdulillah sudah buka kembali), dan hasilnya tetap dermatitis. 

Hasil konsul dokter, aku nggak boleh nyuci baju, kena air sabun kecuali sabun mandi, kena air kotor, ngepel, dan nyuci piring. Harus jauh dari debu dan kotoran.Wew, so tough tapi mau gimana lagi? Aku ikuti saran dokter. Never doing all the house chores anymore kecuali nyapu dan beresin baju. Jari-jari alhamdulillah udah sangaat membaik. udah nggak pernah iritasi, gatal, dan merah-merah lagi. Sampai suatu hari aku masak sayur karena hidroponik di rumah udah panen lagi kan. And then another story happened. 

Jari yang sudah membaik tiba-tiba gatal lagi, merah, dan kembali iritasi. Rasanya lebih parah dari yang sebelumnya. Sampai nggak bisa nulis! nggak bisa pegang apapun dengan sempurna. Dan semakin parah ketika minggu lalu aku ke luar kota. Hmm iyasih di sana aku banyak kena debu jadi itu kayaknya yang jadi trigger. Alhamdulillah sudah ke dokter lagi dan dikasih obat lagi.

Di sini aku mau bilang kalau yang aku alami ini kecil banget. satu jari di kanan, satu di kiri tapi impact-nya ke semua aktivitas. "Cuma" dua jari aja bisa bikin aku cuti nyuci baju, piring, ngepel, beberes rumah. Apalagi kalau lagi dikasih salep, aku makin nggak bisa ngapa-ngapain kecuali tidur atau nonton. Ngetik aja nggak bisa. Well, sekarang pun aku ngetik tanpa jari tengah kanan karena sakit banget bahkan cuma disentuh aja tuh perihh. 

Kadang kita nggak sadar bahwa hal-hal yang sifatnya lumrah adalah nikmat. Kita punya dua mata, it's normal karena memang seperti itu manusia diciptakan. karena normal itulah kita suka lupa kalau dua mata itu nikmat. Lima jari yang Allah ciptakan di setiap tangan, kita anggap itu biasa saja. Padahal ternyata satu jari luka, efeknya ke keseharian kita, kerjaan kita. 

Maka dari itu sebenarnya tidak ada hal yang tidak bisa kita syukuri setiap saatnya. Kalau kita selalu merasa bingung untuk mensyukuri nikmat Allah, maka sebut saja semua anggota tubuh kita yang alhamdulillah masih berfungsi dengan baik. Dan itu semakin menunjukan, bahwa nikmat Allah itu sangaat banyak sampai kita nggak bisa menghitungnya. 

Mari kita biasakan untuk melisankan syukur setiap sebelum tidur, agar kita ingat bahwa semua yang terjadi di hidup kita semata-mata karena izin Allah dan kepunyaan Allah. 

Sumber: Canva


Thank you for reading,

Best Regards,


Hilya

Comments

Popular posts from this blog

my beloved sai :)

Sekolah Alam Indonesia tempat dimana aku mengahbiskan banyak waktu disini. dari kecil. dari playgroup. sampe sekarang. di tingkat tertinggi di SAI, SL 9. " sekolah alam? sekolah di utan apa hil?" "sekolahnya gimana tuh? punya kelas ga?" bener kata ka rhea. aku ga belajar di kelas. aku belajar di saung. karena kalo kelas itu identik sama ruang segiempat yang bertembok dan ada jendelanya. ada bangku, meja, meja guru dll. sedangkan sekolahku, ga ada meja guru. hehehehe. disini, aku ngga cuma belajar 2x2=4 atau, hasil akhir dr soal math, fisika, dll. tapi gimana prosesnya aku dapet jawaban itu. ga cuma kognitif, tapi akhlak juga diliat disini. dan selama aku sekolah disini, aku ga pernah bosen belajar disini. emang aku pernah bosen belajar math, ipa atau pelajaran lainnya. tapi lingkungan sekolahnya ngga pernah bikin aku bosen. the teachers. semua guru disini friendly. enak banget diajak ngobrol. sampe susah banget nge-describenya hehe.. mungkin karena belom pernah nyob...

Tentang Orangtua

Semenjak aku menjadi satu-satunya anak besar (bukan badannya) yang tinggal di rumah, aku semakin sadar bahwa sebenarnya aku ini masih jauh dari kata anak baik.  Seperti dulu waktu masih kuliah dan lagi sok-sokan menikmati peran sebagai (sok) aktifis, aku sering banget nggak izin pulang telat sama ortu. Dulu mikirnya dalam hati “gue udah gede kok, udah bisa jaga diri dan gue nggak macem-macem, kegiatan gue nggak aneh-aneh” ternyata itu semua nggak cukup saudara-saudara. Karena memang setelah itu, sering banget aku ditegur karena pulang malem. Bukan masalah pulang malemnya, tapi izinnya itu loh. Teguran pertama, aku iyain aja dan aku ikuti maunya mereka: izin setiap pulang malam. Namun itu hanya hangat di awal saja. Ke sininya, penyakit kesotoyan gue-udah-gede ini kumat kembali. Aku akhirnya mendapatkan SP 2 waktu itu which I could add a fact : terjadi adu mulut di situ. Aku yang mempertanyakan kenapa harus begini, begitu? Orangtua yang selalu punya senjata andalan “kami tuh...