Skip to main content

Deliberate Practice dalam Konteks Ketaatan

Beberapa waktu ini, aku membaca sebuah buku berjudul Grit karya Angela Duckworth yang berisi 
mengenai teori serta pengalaman beliau yang meneliti daya tahan, ketangguhan, dan keseriusan seseorang dalam menggeluti suatu bidang. Ada banyak hal dimensi untuk menjadi seorang Grit Paragon (istilah untuk orang yang sangat tangguh dalam menjalani perannya). Satu yang membuat aku tertarik adalah pada bab yang membahas mengenai deliberate practice yang bermakna latihan pada suatu bidang yang dilakukan secara terus menerus dan sistematis.

Konsep deliberate practice setipe dengan Kaizen pada orang Jepang yang berarti "continous improvement".  Suatu hal yang kita latih terus menerus dengan terencana akan berbeda hasilnya dengan ketika kita hanya mengandalkan lamanya waktu latihan. Seseorang yang expert, tidak berfokus pada kuantitas dalam berlatih tetapi juga kualitas. "Not just more time on task, but better time on task". Seseorang yang melakukan deliberate practice pada suatu bidang dalam waktu yang lama, akan terbukti menguasai bidang tersebut. Ia akan punya catatan harian yang berisi pencapaian, kekuatan, kelemahan, dan target baru di setiap harinya. Ia selalu punya tujuan, ia selalu haus akan pendapat yang membangun dari orang-orang khususnya pelatihnya, dan ia menjadikannya sebagai sebuah kebiasaan.

"Until what was a struggle before is now fluent and flawless. Until conscious incompetence becomes unconscious competence" 
Konsep ini menggelitik pikiranku yang beberapa tahun ini masih mempelajari dan menerapkan konsep "mencari ridho Allah pada setiap aktivitas". Akhirnya aku sadar bahwa konsep deliberate practice sangat universal bahkan mengandung suatu hikmah bahwasannya, untuk impian-impian kita yang mungkin lebih dominan bersifat duniawi saja bisa kita raih dengan deliberate practice, berarti bisa juga kita terapkan untuk menghamba kepada Yang Mengabulkan Mimpi.



Biasanya sih agak sulit bagi kita sebagai manusia untuk mengimplementasikan konsep sabar, syukur, ikhlas, niat karena Allah, mengerjakan semua karena Allah. Mungkin karena konsep penghambaan ini lebih abstrak dibandingkan dengan meraih impian duniawi. Di sisi lain, karena keterbatasan kita akan ilmu agama, dan kita yang nggak pernah melihat langsung Pencipta kita, konsep penghambaan itu sebatas kita ketahui tapi tidak kita pahami dan resapi. Padahal, jika kita betul-betul bisa menerapkan semua konsep penghambaan yang berorientasi hanya pada Allah saja, secara otomatis impian-impian kita di dunia juga mengikuti.

Aku banyak menemukan cerita banyaknya orang yang tahu konsep "kerjakan semua karena Allah; untuk mencari ridho Allah" tetapi bingung harus mulai dari mana. Aku pun pernah berada di posisi yang sama. Banyak bertanya sana-sini apa yang dimaksud dengan mencari ridho Allah dalam setiap aktivitas? lalu bagaimana mulainya? itu pertanyaan yang baru terjawab setelah bertahun-tahun dan aku mau share juga cara-caranya; yaitu dengan melakukan deliberate practice dalam konteks bentuk ikhtiar kita dalam rangka ketaatan pada Allah.

Sama seperti yang sudah dijelaskan di atas bahwa yang harus dilakukan adalah pertama harus punya tujuan. Dalam hal ini tujuan kita satu: mencari ridho Allah. Kemudian coba selalu diucapkan setiap pagi entah itu masuk ke dalam doa setelah shalat atau sebelum memulai pekerjaan. Pokoknya, jangan pernah lupa setiap pagi dilatih untuk terus mengucapkannya secara verbal kepada diri sendiri. Setelah dilisankan secara setiap hari, secara otomatis pikiran kita akan selalu mengarah ke sana. Akhirnya membuat kita yang akhirnya berusaha keras (struggle) menjadi lancar (fluent) dan sempurna (flawless). Dari kita yang sadar bahwa kita tidak kompeten, menjadi kita yang berkompeten tanpa disadari.

Kesulitan pasti akan ditemukan, kebosanan juga adalah tantangan yang pasti akan datang karena dinamika kondisi keimanan kita. Namun hal tersebut bukanlah sebagai penutup jalan agar kita tidak meneruskan deliberate practice. Tidak ada hal besar yang didapat tanpa pengorbanan. There are no gains without pains. Maka dari itu, perlunya partner atau mentor yang senantiasa menyemangati kita ketika jenuh, selalu mau membantu kita untuk bangkit di saat terjatuh, dan senantiasa memberikan masukan ketika niat sudah mulai berbelok dari jalannya.

Selain itu, yakinlah bahwa Allah selalu menilai usaha kita. Proses yang sedikit namun terus menerus dilakukan, akan lebih besar nilainya daripada proses yang kita lakukan langsung dalam skala besar tapi setelah itu kita jatuh, dan tidak ingin memulai kembali. Semoga Allah selalu memudahkan apapun usaha kita yang terus ingin mendekat padaNya. Good things take time through time!

Thank you for reading,
Best Regard,

Hilya

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

my beloved sai :)

Sekolah Alam Indonesia tempat dimana aku mengahbiskan banyak waktu disini. dari kecil. dari playgroup. sampe sekarang. di tingkat tertinggi di SAI, SL 9. " sekolah alam? sekolah di utan apa hil?" "sekolahnya gimana tuh? punya kelas ga?" bener kata ka rhea. aku ga belajar di kelas. aku belajar di saung. karena kalo kelas itu identik sama ruang segiempat yang bertembok dan ada jendelanya. ada bangku, meja, meja guru dll. sedangkan sekolahku, ga ada meja guru. hehehehe. disini, aku ngga cuma belajar 2x2=4 atau, hasil akhir dr soal math, fisika, dll. tapi gimana prosesnya aku dapet jawaban itu. ga cuma kognitif, tapi akhlak juga diliat disini. dan selama aku sekolah disini, aku ga pernah bosen belajar disini. emang aku pernah bosen belajar math, ipa atau pelajaran lainnya. tapi lingkungan sekolahnya ngga pernah bikin aku bosen. the teachers. semua guru disini friendly. enak banget diajak ngobrol. sampe susah banget nge-describenya hehe.. mungkin karena belom pernah nyob...

Tentang Orangtua

Semenjak aku menjadi satu-satunya anak besar (bukan badannya) yang tinggal di rumah, aku semakin sadar bahwa sebenarnya aku ini masih jauh dari kata anak baik.  Seperti dulu waktu masih kuliah dan lagi sok-sokan menikmati peran sebagai (sok) aktifis, aku sering banget nggak izin pulang telat sama ortu. Dulu mikirnya dalam hati “gue udah gede kok, udah bisa jaga diri dan gue nggak macem-macem, kegiatan gue nggak aneh-aneh” ternyata itu semua nggak cukup saudara-saudara. Karena memang setelah itu, sering banget aku ditegur karena pulang malem. Bukan masalah pulang malemnya, tapi izinnya itu loh. Teguran pertama, aku iyain aja dan aku ikuti maunya mereka: izin setiap pulang malam. Namun itu hanya hangat di awal saja. Ke sininya, penyakit kesotoyan gue-udah-gede ini kumat kembali. Aku akhirnya mendapatkan SP 2 waktu itu which I could add a fact : terjadi adu mulut di situ. Aku yang mempertanyakan kenapa harus begini, begitu? Orangtua yang selalu punya senjata andalan “kami tuh...