Skip to main content

Surat untuk Anak-Anakku

sumber: here

Hai nak,
Hidup ini semakin indah sejak kehadiranmu di dunia yang menjadi penyejuk hatiku, dan ayahmu. Entah berapa lama lagi kita bertemu, tetapi percayalah; aku di sini sedang memperjuangkanmu. Peranku sebagai ibu tentu belum sempurna sebelum kamu hadir dalam perutku, dan nantinya dalam dekapanku. Namun peranku sebagai ibu, sudah dimulai dari saat ini bahkan sejak ketika aku dilahirkan.

Hai nak,
Aku memang tidak tahu kapan persisnya aku bertemu denganmu. semakin bertambahnya usiaku, semakin jauh juga jarak usia kita. Itu berarti, semakin banyak tantangan dan penyesuaian yang akan kita hadapi bersama. Mungkin nanti ada masanya kamu merasa bahwa aku ini menyebalkan, tidak dapat mengerti duniamu yang sudah jauh dari genggamanku. Ada perasaan kecewa darimu terhadapku yang sulit mengerti dirimu. Hai nak, ketika kamu merasa dunia mengecewakanmu bahkan aku dan ayahmu yang mungkin menyakiti dirimu, percayalah bahwa kamu masih punya Allah yang selalu setia mendengar keluh kesahmu. Allah yang tidak akan pernah lepas darimu dan tidak pernah mengecewakanmu. Jangan pernah lepas dari dekapan Allah ya.

Hai nak,
tantangan dunia pada zamanmu kelak adalah yang terberat. kamu tahu nak, semakin tahun berganti semakin terlihat tanda-tanda zaman ini akan mendekati ujungnya. taruhannya adalah nyawa dan agamamu. Maka jangan pernah sekali-kali kamu lepas ikatan imanmu demi keselamatan di dunia yang sebentar lagi akan selesai masanya. Jangan kamu gadaikan Allah dan Rasulnya pada fatamorgana akhir zaman. Islam akan semakin terasing di zamanmu. Janganlah terpengaruh pada mayoritas orang-orang yang mengatakan beriman tetapi menindas agamanya di saat yang bersamaan. Jadilah orang-orang yang sedikit namun teruji keimanannya. Selalu berdoa pada Allah untuk ditunjukkan ke jalan yang lurus.

Hai nak,
Bagaimana kehidupanmu nanti, selalu awali harimu dengan berdoa memohon ridhoNya dalam setiap aktifitasmu. Karena semua amalan yang kamu lakukan tidak akan ada harganya ketika Allah tidak meridhoinya. Begitupun ketika ada ujian yang menghampirimu, itu terjadi karena memang Allah ridho kamu mendapatkannya. Satu hal yang pasti: ridho Allah pasti untuk kebaikan hambaNya. Ketika tujuanmu adalah mencari ridho Allah, ujian seberat apapun pasti bisa kamu lalui dengan tenang karena kamu percaya bahwa ada Allah yang akan membantumu. Nanti setiap pagi kita rutinkan ya nak berdoa untuk mengharap ridhoNya :)

Hai Nak,
Akhiri malammu dengan selalu berdoa dan bercerita mengenai hari-harimu kepada Allah. selalu sebutkan apapun yang kamu dapatkan dan berterima kasihlah mulai dari hal yang nampak dan tidak. Beterima kasihlah atas hidayah yang masih Allah berikan untukmu. Berterima kasihlah atas ujian yang sudah Allah berikan untuk meningkatkan derajatmu. Berterima kasihlah atas izin Allah yang masih membuatmu selalu mengingatnya. Anakku, kenikmatan dari Allah tidak selalu mengenai hal yang dapat dilihat. Ingatan kita yang selalu menuju ke Allah juga termasuk nikmat yang besar. Maka selalu ingatlah Allah dalam keadaan senang maupun sulit. Aku dan ayahmu mungkin tidak akan selalu bisa membahagiakanmu walau kami selalu berusaha keras untuk itu. tapi nak, selalu ada Allah yang akan membuatmu tenang dan bahagia lahir batin.

Hai nak,
Semua pesan yang sudah kutuliskan di atas tidaklah mudah untuk kita jalani bersama. Tetapi aku selalu percaya bahwa Allah akan membantu kita. Saat ini, tugasku lah sebagai ibu yang harus memperkuat pendidikan tauhid untuk kuwariskan padamu. Insya Allah kita akan bertemu dalam ridhoNya di waktu dan tempat yang terindah :) doakan aku untuk selalu meningkatkan kapasitas diri yaa. Kita sama-sama jadi keluarga yang dilindungi Allah yaa :) 

Hai nak,
Ketahuilah bahwa aku dan ayahmu sangat mencintaimu. Kami akan memberikan semaksimal mungkin yang kami punya untuk membesarkanmu, amanah terbesar dari Allah. Kamu mungkin juga akan menyayangi kami sebagai orangtuamu tapi selalu ingat ada cinta yang lebih besar dari kami, yaitu cinta Allah. Cintailah Allah terlebih dahulu sebelum mencintai kami. Jadilah anak yang selalu mengerjakan perintahNya dan menjauhi laranganNya. Semoga Allah meridhoi langkahmu, langkahku, langkah ayahmu. Sampai bertemu di suatu hari nanti yaa nak.

Dari aku yang sangat menyayangimu sejak sebelum bertemu,
Your future Mom :)

--
Thank you for reading,
Best Regards,

Hilya

Comments

Popular posts from this blog

my beloved sai :)

Sekolah Alam Indonesia tempat dimana aku mengahbiskan banyak waktu disini. dari kecil. dari playgroup. sampe sekarang. di tingkat tertinggi di SAI, SL 9. " sekolah alam? sekolah di utan apa hil?" "sekolahnya gimana tuh? punya kelas ga?" bener kata ka rhea. aku ga belajar di kelas. aku belajar di saung. karena kalo kelas itu identik sama ruang segiempat yang bertembok dan ada jendelanya. ada bangku, meja, meja guru dll. sedangkan sekolahku, ga ada meja guru. hehehehe. disini, aku ngga cuma belajar 2x2=4 atau, hasil akhir dr soal math, fisika, dll. tapi gimana prosesnya aku dapet jawaban itu. ga cuma kognitif, tapi akhlak juga diliat disini. dan selama aku sekolah disini, aku ga pernah bosen belajar disini. emang aku pernah bosen belajar math, ipa atau pelajaran lainnya. tapi lingkungan sekolahnya ngga pernah bikin aku bosen. the teachers. semua guru disini friendly. enak banget diajak ngobrol. sampe susah banget nge-describenya hehe.. mungkin karena belom pernah nyob...

Tentang Orangtua

Semenjak aku menjadi satu-satunya anak besar (bukan badannya) yang tinggal di rumah, aku semakin sadar bahwa sebenarnya aku ini masih jauh dari kata anak baik.  Seperti dulu waktu masih kuliah dan lagi sok-sokan menikmati peran sebagai (sok) aktifis, aku sering banget nggak izin pulang telat sama ortu. Dulu mikirnya dalam hati “gue udah gede kok, udah bisa jaga diri dan gue nggak macem-macem, kegiatan gue nggak aneh-aneh” ternyata itu semua nggak cukup saudara-saudara. Karena memang setelah itu, sering banget aku ditegur karena pulang malem. Bukan masalah pulang malemnya, tapi izinnya itu loh. Teguran pertama, aku iyain aja dan aku ikuti maunya mereka: izin setiap pulang malam. Namun itu hanya hangat di awal saja. Ke sininya, penyakit kesotoyan gue-udah-gede ini kumat kembali. Aku akhirnya mendapatkan SP 2 waktu itu which I could add a fact : terjadi adu mulut di situ. Aku yang mempertanyakan kenapa harus begini, begitu? Orangtua yang selalu punya senjata andalan “kami tuh...