Skip to main content

Cerita STIFIn


Hai gengs, jumpa lagi di cerita pertama tahun 2019!

Alhamdulillah per hari ini aku udah boleh beraktifitas seperti semula, yeayy. Setelah bedrest dua minggu dan dua minggu pemulihan. 

Aktifitas hari pertama di tahun ini diawali dengan aku mengikuti workshop STIFIn. Buat yang belum tau, STIFIn adalah tes kecerdasan dan personality genetik atau bisa dibilang karakter dan kecerdasan yang diberikan Allah (given/fitrah) sejak kita lahir. Ada lima mesin kecerdasan di STIFIn yaitu Sensing, Thinking, Intuiting, Feeling, dan Insting. Sejarahnya Panjang banget yang jelas highlight point yang juga menjadi pertanyaan besarku terjawab. Tes ini ilmiah, sudah teruji, bukan ramalan, dan tidak mengandung unsur syirik. Basicnya tetap ilmu psikologi yang sudah dikembangkan jauh dan juga merujuk kepada nilai-nilai keislaman.

Mungkin banyak yang bertanya-tanya termasuk aku, apa aja sih yang diukur di STIFIn? Jadi ternyata yang diukur di STIFIn adalah belahan otak dan lapisan otak yang dominan yang kita miliki. Tipe sensing memiliki belahan otak limbik kiri yang dominan sehingga dia berorientasi pada hal-hal yang sifatnya tampak, real, dan dapat diukur dari panca inderanya. Kalau di tipe thinking, belahan otak yang dominan adalah neokorteks kiri sehingga logika bermain banget disitu atau yang biasa kita tau orang thinking biasanya otak kiri banget. Orang thinking ini agak sulit diajak bercanda dan orientasinya pada tahta atau jabatan. Pada tipe Intuiting, belahan otak yang dominan adalah Neokorteks kanan atau otak kanan sehingga kecerdasan pada tipe ini adalah kreatifitas, anti sosial, dan yaa terlihat agak aneh padahal visioner. Sedangkan Feeling, belahan otak dominannya adalah Limbik kanan sehingga emosi bermain disitu. Orang feeling ini senang banget ketemu dan berinteraksi dengan orang. Cocok buat jadi pemimpin.



Lalu insting??

Insting ini agak spesial gengs mengingat tadinya STIFIn itu di awal hanya memiliki konsep 4 kecerdasan. Munculnya insting ini agak telat tapi sebenarnya dari dulu udah ada dan bahkan diteliti oleh filsuf muslim pada zamannya. 

Tipe insting ini seperti bunglon. Belahan otak dominannya adalah otak tengah atau otak reptile sehingga memiliki keunggulan naluri yang besar. Mereka juga serba bisa dan memiliki semua porsi kecerdasan keempat di atas. Orang insting ini punya indera ketujuh dan potensinya besar di spiritual. Sehingga, jika orang insting ini dekat dengan Allah, maka indera ketujuh atau nalurinya bermain disitu. Jadi hati-hati kalau ada orang insting yang bilang “eh jangan kesitu” bisa jadi ada sesuatu. Hahaha. Nggak ghaib yaa pasti. Ini ilmiah dan memang populasinya paling sedikit makanya paling “telat” terdeteksinya.

So, sebenarnya Desember lalu aku udah pernah ikutan tes STIFIn ini dan hasilnya adalah Insting. Cukup mengejutkan karena tipe insting ini paling jarang ditemukan kayak yang aku bilang. Dan emang aku merasa dari dulu galau banget sih karena beberapa kali tes kepribadian yang psikometrik (tertulis dan kuesioner), hasilnya tuh kurang memuaskan. Aku merasa “di tipe ini gue ada, ini juga ada, ini juga gue banget” dan ternyata hasil tes STIFIn aku membuktikan bahwaa aku emang diciptakan buat memiliki keempat kecerdasan itu plus punya naluri yang aktif jadi yaa mau gimana lagi. Emang kodratnya jadi orang generalis yang bisa bantu apa aja kalau ada yang membutuhkan. Mungkin bisa dibilang aku harus jadi orang sholehah kali yaa karena potensi insting juga adalah spiritualitasnya yang tinggi, hahahaha aamiin. 

Aku ngomong insting banyak banget bukan berarti insting yang paling bagus. Justru insting jarang dibahas karena emang sedikit kasusnya dan sedikit yang memiliki tipe ini jadi nggak begitu terlihat. Plus, dia bisa masuk ke tipe mana aja. Kalau yang lain misalkan sensing, dia kekuatannya di otot sehingga bagus nih buat orang sensing untuk jadi olahragawan, aktif, dan jadi orang kaya karena orientasinya harta. Maksudnya orientasi itu, dia akan berkembang ketika udah berhubungan dengan harta. Terus ada Thinking yang analitis, sistematis, keren banget kalau buat sistem, tipe-tipe manajer dan expertise kalo si Thinking ini. Intuiting yang imajinatif, visioner, kreatif, dan fitrahnya emang jadi inventor sih. Dan ada si Feeling yang hangat, ramah, bersahaja, punya pengaruh, dan memiliki kelebihan buat mengkader orang dan membuat orang biasa menjadi luar biasa. Tipe feeling ini adalah King dan King-maker. 

Setelah ikut workshop tadi dan benar-benar dijelaskan tentang fitrah manusia, Mesin Kecerdasan, Lapisan otak dominan (ada extrovert dan introvert. FYI, insting nggak punya lapisan otak dominan makanya dia serba bisa dan spontan karena langsung berhubungan dengan sumsum tulang belakang), dan setiap Mesin Kecerdasan STIFIn juga terikat dengan DNA yang berbeda-beda juga (lagi-lagi kecuali tipe Insting karena mereka cenderung ke RNA yang mana bisa nemplok ke DNA apa saja).

Hal terpenting dari pembelajaran STIFIn ini ternyata Allah benar-benar melahirkan kita bukan tanpa modal. Tapi Allah sudah melahirkan kita dengan modal dasar genetik yang walau porsinya hanya 20% dari keadaan kita saat ini (fenotip) dan 80%nya adalah lingkungan, tapi kalau yang 20% kita sudah memahaminya, 80% itu akhirnya mengikuti dan kita bisa maksimal disitu. Contohnya adalah pemilihan karir. Orang yang sebenarnya sensing cocoknya berkarir di panggung dalam arti yang sebenarnya atau kiasan. Dia harus punya ruang gerak. Kalau orang Thinking, harus punya meja kerja atau meja belajar supaya dia bisa berpikir fokus. Untuk Intuiting harus perbanyak jalan-jalan dan baca buku supaya wawasannya luas dan melahirkan karya-karya kreatif. Feeling adalah pemimpin kita. Dia bagus buat jadi guru, leader di mana saja, atau mentor karena kemampuan menggerakkan orang yang luar biasa dan dia mudah membaca perasaan. Insting punya kelebihan yang serba bisa dan memiliki brand peran sehingga orang Insting ini bagus jika bekerja di Lembaga-lembaga sosial. Ketika kita sudah mengetahui Mesin Kecerdasan yang dominan, Insya Allah hidup kita akan lebih terarah dan kita akan sangat jauuuuh lebih nyaman menjalaninya karena memang itu fitrah yang udah Allah mau atau bisa dibilang, itulah harapan Allah pada diri kita ketika hidup di dunia ini. 

Dari STIFIn aku benar-benar belajar konsep bersyukur karena sebenarnya Allah tuh udah ngasih petunjuk bagusnya kita dimana tapi mungkin karena kurang ilmu makanya aku nggak mengasah. Allah nggak mau kita susah mikirin mau jadi apa dan harus gimana kita hidup. Allah udah kasih semua. STIFIn adalah tools buat menemukannya. Sisanya pasti dikembalikan ke diri kita. Tapi emang bener, setelah tahu hasil STIFIn, aku jadi langsung bikin life map dengan orientasi mengoptimalkan kecerdasan genetic dari Allah. Semoga bisa bermanfaat buat semua (bahasa gue orang Insting banget ya ngomongnya bermanfaat hahaha).

Oiya kelima Mesin Kecerdasan ini nggak tau kenapa bisa pas banget sama sahabat-sahabat Rasulullah. Contoh orang sensing adalah seperti Utsman Bin Affan yang harta banget  kaya raya bermanfaat. Tipe thinking seperti Umar Bin Khattab yang tau sendiri lah yaa gimana tegasnya Umar dan tegaan sama orang tapi sistematis. Terus kepribadian dan kecerdasan Abu Bakar yang Feeling banget. Ramah, lembut, disenangi banyak orang. Tipe visioner intuiting ada pada Ali Bin Abi Thalib yang juga cerdas nan kreatif dan juga cerdas dalam berkata-kata. Terakhir insting yang ada pada diri Rasulullah SAW yang serba bisa, spiritualitasnya tinggi dan insya Allah Rasulullah SAW adalah tipe insting yang sempurna (nggak kayak gue yang masih banyak kekuarangannya) tapi setidaknya semoga aku dan kita semua tetap bisa mencontoh kehidupan Rasulullah SAW dan para Sahabatnya sesuai Mesin Kecerdasan yang kita punya. 

Bagi yang masih penasaran, coba googling aja penjelasan detailnya. Banyak kok di internet, atau mungkin kita bisa sharing 😊

Bonus gambar-gambar tipe Mesin Kecerdasan STIFin. Sumber: banyak.








Comments

Popular posts from this blog

my beloved sai :)

Sekolah Alam Indonesia tempat dimana aku mengahbiskan banyak waktu disini. dari kecil. dari playgroup. sampe sekarang. di tingkat tertinggi di SAI, SL 9. " sekolah alam? sekolah di utan apa hil?" "sekolahnya gimana tuh? punya kelas ga?" bener kata ka rhea. aku ga belajar di kelas. aku belajar di saung. karena kalo kelas itu identik sama ruang segiempat yang bertembok dan ada jendelanya. ada bangku, meja, meja guru dll. sedangkan sekolahku, ga ada meja guru. hehehehe. disini, aku ngga cuma belajar 2x2=4 atau, hasil akhir dr soal math, fisika, dll. tapi gimana prosesnya aku dapet jawaban itu. ga cuma kognitif, tapi akhlak juga diliat disini. dan selama aku sekolah disini, aku ga pernah bosen belajar disini. emang aku pernah bosen belajar math, ipa atau pelajaran lainnya. tapi lingkungan sekolahnya ngga pernah bikin aku bosen. the teachers. semua guru disini friendly. enak banget diajak ngobrol. sampe susah banget nge-describenya hehe.. mungkin karena belom pernah nyob...

Tentang Orangtua

Semenjak aku menjadi satu-satunya anak besar (bukan badannya) yang tinggal di rumah, aku semakin sadar bahwa sebenarnya aku ini masih jauh dari kata anak baik.  Seperti dulu waktu masih kuliah dan lagi sok-sokan menikmati peran sebagai (sok) aktifis, aku sering banget nggak izin pulang telat sama ortu. Dulu mikirnya dalam hati “gue udah gede kok, udah bisa jaga diri dan gue nggak macem-macem, kegiatan gue nggak aneh-aneh” ternyata itu semua nggak cukup saudara-saudara. Karena memang setelah itu, sering banget aku ditegur karena pulang malem. Bukan masalah pulang malemnya, tapi izinnya itu loh. Teguran pertama, aku iyain aja dan aku ikuti maunya mereka: izin setiap pulang malam. Namun itu hanya hangat di awal saja. Ke sininya, penyakit kesotoyan gue-udah-gede ini kumat kembali. Aku akhirnya mendapatkan SP 2 waktu itu which I could add a fact : terjadi adu mulut di situ. Aku yang mempertanyakan kenapa harus begini, begitu? Orangtua yang selalu punya senjata andalan “kami tuh...