Skip to main content

Menjadi Makna


Dulu aku adalah penganut paham bahwa seseorang haruslah mengikuti passion-nya. Aku sering berkata pada teman-teman saat SMA, pilihlah jurusan kuliah yang sesuai dengan passion kita. Jadilah seseorang yang berkarir dalam bidang yang kita sukai. Aku nggak menyesal pernah berkata hal demikian, namun aku lupa bahwa dunia tidak selalu berpihak pada keinginan kita. Aku lupa -lebih tepatnya belum tahu saat itu- bahwa ada jalur-jalur dalam kehidupan ini yang nggak sesuai dengan apa yang kita sukai, dan apa yang sudah kita rencanakan.

Tidak ada yang salah dengan mengejar passion. Justru hal tersebut sangat baik jika memang kita bisa menjadi expert di bidang yang kita cintai. Namun dalam hidup ini, tidak semua yang kita dapatkan sesuai dengan passion kita. Mau itu sekolah, jurusan kuliah, lingkaran pertemanan, bahkan karir. Fenomena saat ini, semua orang masih tetap mengampanyekan pentingnya berkarir sesuai passion tetapi sedikit sekali yang menyampaikan bahwa kita juga punya kehidupan yang tetap harus dijalani ketika kita berada dalam kondisi yang jauh dari passion. Aku beberapa kali menemukan orang-orang yang tidak berada dalam kondisi nyamannya atau sesuai passion-nya akhirnya tidak menjadi maksimal dalam menjalani perannya, bahkan banyak yang melarikan dirinya dari tanggung jawab dengan dalih "gue nggak suka," atau "nggak sesuai passion gue".

Aku juga pernah mengalaminya. Berada dalam kondisi yang jauh dari apa yang sudah kurencanakan. Pada perjalanannya, aku pun nggak jarang mengeluhkan, mempertanyakan mengapa. Sampai akhirnya capek sendiri dan akhirnya menyadari bahwa ada yang jauh lebih baik daripada menuntut untuk terus hidup dalam passion.

Ya, kadang kita terlalu fokus dengan mencari idealnya kehidupan tapi lupa dengan kontribusi apa yang sudah kita berikan, lupa dengan menjadi makna di tempat kita berada saat ini.

Kadang kita lupa bahwa Allah nggak akan menempatkan kita dalam suatu kondisi kecuali, satu; kita bisa melewatinya dan yang kedua; karena ada peran yang harus kita ambil. Ada makna yang harus kita berikan. Ada kebaikan yang harus kita sebarkan, apapun bentuknya.

Menjadi makna berarti mengambil peran kebaikan sekecil apapun yang berdampak bagi sekeliling kita. Kalau kita Mahasiswa, jadilah penolong teman-teman kampus dalam hal apa pun. Sesederhana menjadi si pembawa alat tulis, pencatat tugas, atau membantu memberitahukan informasi kepada teman yang tidak masuk. Kalau kita bekerja, jadilah pengingat kebaikan-kebaikan, alarm ibadah, dan beramal shalih. Jadilah profesional sekalipun hal tersebut bukanlah dalam bidang kita. Selalu berikan yang terbaik, karena kita tidak pernah tahu kemana Allah akan mengantar kita setelah ini.

Menjadi makna dalam dalam kondisi yang tidak mengenakkan bagi kita tidak akan membuat kita rugi sedikitpun. Karena memberi manfaat adalah investasi terbesar yang bisa kita miliki. Karena hasil dari memberi manfaat adalah perasaan bahagia yang tidak bisa dideskripsikan ketika orang yang kita bantu, pada akhirnya berterima kasih kepada kita bahkan menjadi dimudahkan urusannya, yang mungkin karena bantuan sederhana yang kita berikan.

Buat teman-teman yang saat ini berada dalam kondisi yang tidak diinginkan, kita belum menemukan keindahan dalam kondisi tersebut bukan karena hal itu tidak sesuai passion kita, tetapi keadaan itu justru menunggu kita untuk menjadi pionir keindahan, menjadi yang dicari orang, menjadi bermakna.

Jangan pernah menyerah untuk selalu menjadi makna, dimanapun kita berada :)

Thank you for reading
Best Regards,

Hilya

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

my beloved sai :)

Sekolah Alam Indonesia tempat dimana aku mengahbiskan banyak waktu disini. dari kecil. dari playgroup. sampe sekarang. di tingkat tertinggi di SAI, SL 9. " sekolah alam? sekolah di utan apa hil?" "sekolahnya gimana tuh? punya kelas ga?" bener kata ka rhea. aku ga belajar di kelas. aku belajar di saung. karena kalo kelas itu identik sama ruang segiempat yang bertembok dan ada jendelanya. ada bangku, meja, meja guru dll. sedangkan sekolahku, ga ada meja guru. hehehehe. disini, aku ngga cuma belajar 2x2=4 atau, hasil akhir dr soal math, fisika, dll. tapi gimana prosesnya aku dapet jawaban itu. ga cuma kognitif, tapi akhlak juga diliat disini. dan selama aku sekolah disini, aku ga pernah bosen belajar disini. emang aku pernah bosen belajar math, ipa atau pelajaran lainnya. tapi lingkungan sekolahnya ngga pernah bikin aku bosen. the teachers. semua guru disini friendly. enak banget diajak ngobrol. sampe susah banget nge-describenya hehe.. mungkin karena belom pernah nyob...

Tentang Orangtua

Semenjak aku menjadi satu-satunya anak besar (bukan badannya) yang tinggal di rumah, aku semakin sadar bahwa sebenarnya aku ini masih jauh dari kata anak baik.  Seperti dulu waktu masih kuliah dan lagi sok-sokan menikmati peran sebagai (sok) aktifis, aku sering banget nggak izin pulang telat sama ortu. Dulu mikirnya dalam hati “gue udah gede kok, udah bisa jaga diri dan gue nggak macem-macem, kegiatan gue nggak aneh-aneh” ternyata itu semua nggak cukup saudara-saudara. Karena memang setelah itu, sering banget aku ditegur karena pulang malem. Bukan masalah pulang malemnya, tapi izinnya itu loh. Teguran pertama, aku iyain aja dan aku ikuti maunya mereka: izin setiap pulang malam. Namun itu hanya hangat di awal saja. Ke sininya, penyakit kesotoyan gue-udah-gede ini kumat kembali. Aku akhirnya mendapatkan SP 2 waktu itu which I could add a fact : terjadi adu mulut di situ. Aku yang mempertanyakan kenapa harus begini, begitu? Orangtua yang selalu punya senjata andalan “kami tuh...