![]() |
| sumber: here |
Di sini
aku nggak mau bahas isi dari buku itu sendiri. Menurutku sudah cukup banyak blog-blog yang membahas tentang buku tersebut, silakan dibaca sendiri. Terlepas
dari ceritanya, aku menyadari satu hal yang mungkin sebenarnya sepele tapi
mengena buatku. Sesuatu yang menurutku adalah ‘key message’ yang disisipkan Mbak Hanum dan kak
Azhar kepada para pembaca.
Tentang
sebuah usaha tanpa batas.
Ketika
membaca atau mendengar cerita orang lain, aku selalu merefleksikannya ke
diriku. That’s why my intrapersonal intelligent is high enough. Pun ketika aku membaca buku ini, langsung segera aku mempertanyakan
segalaaa hal ke diri sendiri: “apakah di setiap kegiatan yang kulakukan sudah
dengan usaha yang tanpa batas?”
Usaha
tanpa batas menurutku adalah ketika kita mampu memberikan keseluruhan dari apa
yang kita miliki dengan ikhlas, sabar, dan selalu berserah diri pada Sang
Pencipta. Dan ketika kita merasa sudah memberikannya, kita juga ingin menambah
usaha tersebut. Berbeda dengan ambisius karena biasanya ambisius tidak melihat
poin ikhlas, sabar, dan berserah diri. Ambisius hanyalah usaha yang (terlihat)
maksimal dan dikendalikan sepenuhnya oleh ego.
Aku
melihat dengan usaha tanpa batas ini ternyata justru memberikan side effect
berupa ketenangan dan kepercayaan. Usaha tanpa batas menyadarkanku bahwa aku
tidak memiliki kendali apa pun atas hidup. Hmm nggak usah atas hidup dulu deh,
atas diri sendiri aja sudah mutlak lemah. Ada ketentuan-ketentuan yang harus
diterima manusia sebagai makhluk yang diciptakan, dan tentunya itu adalah hasil
dari usaha tanpa batas.
Idealis
banget yah tulisan ini. Memang benar kata pepatah “easier said than done”.
Jujur aja, aku sendiri masih suka lost apalagi kalau lagi kalut. Sangat tidak
mudah menempatkan usaha tanpa batas ketika ternyata hasil dari usaha-usaha kita
itu nggak terlihat progressnya. Kalaupun ada, mungkin kecil dan bikin kita
desperate sendiri. Tapi di situlah memang tantangannya. Satu-satunya yang
menjadi benteng buatku adalah apapun hasil dari usaha tanpa batas itu semua
adalah hak Allah sebagai pencipta. Ini sangat mudah kita terima ketika mendapat
hasil yang diharapkan. Bagaimana jika kebalikannya? Bahkan masih sangat jauh
dari mungkin, seperti kasus mbak Hanum dan kak Azhar?
Menurutku,
di situlah fungsi kita sebagai manusia beragama. Seperti yang sudah aku bilang di atas, berserah diri karena kita sama sekali nggak punya kendali
atas hidup ini, atas diri ini, terlebih atas takdir. Positive mindset harus
sudah ditanamkan sejak detik ini mengenai ketetapan Allah terhadap takdir
manusia. Keyakinan harus sudah mulai ditancapkan bahwa apapun hasil dari usaha
kita, itulah yang terbaik. Atau yang menurutku lebih menenangkan lagi adalah,
ketika hasil yang kita dapatkan masih jauh dari harapan, itu berarti masih ada
usaha lagi yang harus kita lakukan. Masih ada doa lagi yang harus dipanjatkan,
masih ada pengharapan lagi yang masih kita gantungkan. Semuanya tentu bermuara
ke Allah.
Semakin
idealis.
Pada
intinya, yang harus ditanam dan dipupuk kuat adalah mindset dan mental berusaha
keras. Sudah jadi framing tersendiri bahwa kita ini si generasi millennials adalah
generasi yang serba instan. Maka buktikan bahwa kita adalah millennials yang
menghargai dan mengikuti proses. Dan tentunya, jangan lupa untuk selalu
menggantungkan harapan satu-satunya hanya kepada Allah dan selalu meminta agar
Allah menetapkan hati kita terhadap ketetapan yang telah Dia buat.
“Ya Allah,
tetapkanlah hatiku atas ketetapanMu”
Thank you for reading,
Best Regards,
Hilya

Keren
ReplyDeleteNuhun mang
Delete