Skip to main content

Usaha tanpa Batas


sumber: here
Beberapa waktu lalu akhirnya aku membaca buku lagi. Cukup menarik karena buku ini ditulis oleh Hanum Rais and i loved her writings dari 99 Cahaya di Langit Eropa sampai buku ini yang berjudul I Am Sarahza. Setahun yang lalu juga aku dipinjamkan satu set bukunya kak Azhar Nurun Ala yang salah satunya berjudul Pertanyaan tentang Kedatangan. Kedua buku tersebut memiliki tema cerita yang sama yaitu penantian akan seorang anak yang sama-sama dialami oleh Mbak Hanum dan suami maupun Kak Azhar dan istri. Mbak Hanum yang sabar berusaha dan menanti selama 11 tahun dengan dinamika yang menarik dan well mengharukan, karena dari halaman 7 aja aku udah mewek hehe. Kak Azhar juga sama, menunggu 2 tahun ditambah dengan banyaknya pertanyaan andalan dari netizen kepada pasangan yang sudah menikah dan belum memiliki anak. 

Di sini aku nggak mau bahas isi dari buku itu sendiri. Menurutku sudah cukup banyak blog-blog yang membahas tentang buku tersebut, silakan dibaca sendiri. Terlepas dari ceritanya, aku menyadari satu hal yang mungkin sebenarnya sepele tapi mengena buatku. Sesuatu yang menurutku adalah ‘key message’ yang disisipkan Mbak Hanum dan kak Azhar kepada para pembaca.

Tentang sebuah usaha tanpa batas.

Ketika membaca atau mendengar cerita orang lain, aku selalu merefleksikannya ke diriku. That’s why my intrapersonal intelligent is high enough. Pun ketika aku membaca buku ini, langsung segera aku mempertanyakan segalaaa hal ke diri sendiri: “apakah di setiap kegiatan yang kulakukan sudah dengan usaha yang tanpa batas?” 

Usaha tanpa batas menurutku adalah ketika kita mampu memberikan keseluruhan dari apa yang kita miliki dengan ikhlas, sabar, dan selalu berserah diri pada Sang Pencipta. Dan ketika kita merasa sudah memberikannya, kita juga ingin menambah usaha tersebut. Berbeda dengan ambisius karena biasanya ambisius tidak melihat poin ikhlas, sabar, dan berserah diri. Ambisius hanyalah usaha yang (terlihat) maksimal dan dikendalikan sepenuhnya oleh ego.

Aku melihat dengan usaha tanpa batas ini ternyata justru memberikan side effect berupa ketenangan dan kepercayaan. Usaha tanpa batas menyadarkanku bahwa aku tidak memiliki kendali apa pun atas hidup. Hmm nggak usah atas hidup dulu deh, atas diri sendiri aja sudah mutlak lemah. Ada ketentuan-ketentuan yang harus diterima manusia sebagai makhluk yang diciptakan, dan tentunya itu adalah hasil dari usaha tanpa batas. 

Idealis banget yah tulisan ini. Memang benar kata pepatah “easier said than done”. Jujur aja, aku sendiri masih suka lost apalagi kalau lagi kalut. Sangat tidak mudah menempatkan usaha tanpa batas ketika ternyata hasil dari usaha-usaha kita itu nggak terlihat progressnya. Kalaupun ada, mungkin kecil dan bikin kita desperate sendiri. Tapi di situlah memang tantangannya. Satu-satunya yang menjadi benteng buatku adalah apapun hasil dari usaha tanpa batas itu semua adalah hak Allah sebagai pencipta. Ini sangat mudah kita terima ketika mendapat hasil yang diharapkan. Bagaimana jika kebalikannya? Bahkan masih sangat jauh dari mungkin, seperti kasus mbak Hanum dan kak Azhar? 

Menurutku, di situlah fungsi kita sebagai manusia beragama. Seperti yang sudah aku bilang di atas, berserah diri karena kita sama sekali nggak punya kendali atas hidup ini, atas diri ini, terlebih atas takdir. Positive mindset harus sudah ditanamkan sejak detik ini mengenai ketetapan Allah terhadap takdir manusia. Keyakinan harus sudah mulai ditancapkan bahwa apapun hasil dari usaha kita, itulah yang terbaik. Atau yang menurutku lebih menenangkan lagi adalah, ketika hasil yang kita dapatkan masih jauh dari harapan, itu berarti masih ada usaha lagi yang harus kita lakukan. Masih ada doa lagi yang harus dipanjatkan, masih ada pengharapan lagi yang masih kita gantungkan. Semuanya tentu bermuara ke Allah. 

Semakin idealis.

Pada intinya, yang harus ditanam dan dipupuk kuat adalah mindset dan mental berusaha keras. Sudah jadi framing tersendiri bahwa kita ini si generasi millennials adalah generasi yang serba instan. Maka buktikan bahwa kita adalah millennials yang menghargai dan mengikuti proses. Dan tentunya, jangan lupa untuk selalu menggantungkan harapan satu-satunya hanya kepada Allah dan selalu meminta agar Allah menetapkan hati kita terhadap ketetapan yang telah Dia buat. 


“Ya Allah, tetapkanlah hatiku atas ketetapanMu”


Thank you for reading,
Best Regards,


Hilya

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

my beloved sai :)

Sekolah Alam Indonesia tempat dimana aku mengahbiskan banyak waktu disini. dari kecil. dari playgroup. sampe sekarang. di tingkat tertinggi di SAI, SL 9. " sekolah alam? sekolah di utan apa hil?" "sekolahnya gimana tuh? punya kelas ga?" bener kata ka rhea. aku ga belajar di kelas. aku belajar di saung. karena kalo kelas itu identik sama ruang segiempat yang bertembok dan ada jendelanya. ada bangku, meja, meja guru dll. sedangkan sekolahku, ga ada meja guru. hehehehe. disini, aku ngga cuma belajar 2x2=4 atau, hasil akhir dr soal math, fisika, dll. tapi gimana prosesnya aku dapet jawaban itu. ga cuma kognitif, tapi akhlak juga diliat disini. dan selama aku sekolah disini, aku ga pernah bosen belajar disini. emang aku pernah bosen belajar math, ipa atau pelajaran lainnya. tapi lingkungan sekolahnya ngga pernah bikin aku bosen. the teachers. semua guru disini friendly. enak banget diajak ngobrol. sampe susah banget nge-describenya hehe.. mungkin karena belom pernah nyob...

Tentang Orangtua

Semenjak aku menjadi satu-satunya anak besar (bukan badannya) yang tinggal di rumah, aku semakin sadar bahwa sebenarnya aku ini masih jauh dari kata anak baik.  Seperti dulu waktu masih kuliah dan lagi sok-sokan menikmati peran sebagai (sok) aktifis, aku sering banget nggak izin pulang telat sama ortu. Dulu mikirnya dalam hati “gue udah gede kok, udah bisa jaga diri dan gue nggak macem-macem, kegiatan gue nggak aneh-aneh” ternyata itu semua nggak cukup saudara-saudara. Karena memang setelah itu, sering banget aku ditegur karena pulang malem. Bukan masalah pulang malemnya, tapi izinnya itu loh. Teguran pertama, aku iyain aja dan aku ikuti maunya mereka: izin setiap pulang malam. Namun itu hanya hangat di awal saja. Ke sininya, penyakit kesotoyan gue-udah-gede ini kumat kembali. Aku akhirnya mendapatkan SP 2 waktu itu which I could add a fact : terjadi adu mulut di situ. Aku yang mempertanyakan kenapa harus begini, begitu? Orangtua yang selalu punya senjata andalan “kami tuh...