Skip to main content

suatu hari nanti

Suatu hari nanti kamu akan berterima kasih kepada masalah.

Masalah yang membentukmu menjadi sosok yang lebih kuat dan bijak. Jika saat itu kamu mengutuk kehadirannya, sekarang mungkin kamu bersahabat baik dengannya. Betapa tidak? dirimu sekarang adalah wujud dari penerimaanmu atas rangkaian masalah yang berhasil dilalui.

Kamu mungkin terpaksa menjalaninya. Tak terhitung sudah berapa banyak air mata yang mengalir membasahi pipimu, juga jiwamu. Namun apakah kamu pernah berhenti dan merenung sejenak? Bahwa dirimu saat ini adalah diri yang kuat. Jiwamu adalah yang tidak pernah kenal kata mundur. Keterpaksaan yang kamu rasakan akhirnya membuatmu mau tidak mau menghadapinya.

Kamu boleh berdalih bahwa apa yang sudah kamu merasa gagal. Kamu menghindarinya. Kamu terpuruk. Bahkan hingga masalah itu lepas, kamu masih sesekali menyalahkan dirimu atas apa yang terjadi, atas 'kegagalanmu'.

Tapi boleh aku beritahu satu hal, kawan?

Hadirmu kini adalah bukti bahwa kamu berhasil melaluinya. tidak peduli berapa luka yang sudah menghujam, dan terjalnya medan yang sudah kamu lewati. Disaat ada banyak pilihan yang menggodamu untuk menyerah, tetapi tidak kamu lakukan. Kamu bertahan. Tidak masalah kamu menangis, mengeluh, atau bahkan merasa tidak melakukan apa-apa (menurutmu), tetapi bertahan adalah sebuah kesuksesan disaat banyak orang yang memilih untuk mengakhiri hidupnya.

Mungkin saat ini kamu masih sedih atas ketidakberdayaanmu mengelola masalah. Tak apa. Jadikanlah ia pelajaran berharga dalam hidupmu. Walaupun tidak pernah ada manusia yang siap dengan kehadiran masalah, tetapi paling tidak kamu memiliki modal kesiapan untuk menerimanya. Jadi ingatlah, hadirnya masalah bukan untuk menyulitkanmu, tetapi tanda bahwa ini adalah saatnya kamu bertumbuh.

Thank you for reading,
Best regards,

hilya

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

my beloved sai :)

Sekolah Alam Indonesia tempat dimana aku mengahbiskan banyak waktu disini. dari kecil. dari playgroup. sampe sekarang. di tingkat tertinggi di SAI, SL 9. " sekolah alam? sekolah di utan apa hil?" "sekolahnya gimana tuh? punya kelas ga?" bener kata ka rhea. aku ga belajar di kelas. aku belajar di saung. karena kalo kelas itu identik sama ruang segiempat yang bertembok dan ada jendelanya. ada bangku, meja, meja guru dll. sedangkan sekolahku, ga ada meja guru. hehehehe. disini, aku ngga cuma belajar 2x2=4 atau, hasil akhir dr soal math, fisika, dll. tapi gimana prosesnya aku dapet jawaban itu. ga cuma kognitif, tapi akhlak juga diliat disini. dan selama aku sekolah disini, aku ga pernah bosen belajar disini. emang aku pernah bosen belajar math, ipa atau pelajaran lainnya. tapi lingkungan sekolahnya ngga pernah bikin aku bosen. the teachers. semua guru disini friendly. enak banget diajak ngobrol. sampe susah banget nge-describenya hehe.. mungkin karena belom pernah nyob...

Tentang Orangtua

Semenjak aku menjadi satu-satunya anak besar (bukan badannya) yang tinggal di rumah, aku semakin sadar bahwa sebenarnya aku ini masih jauh dari kata anak baik.  Seperti dulu waktu masih kuliah dan lagi sok-sokan menikmati peran sebagai (sok) aktifis, aku sering banget nggak izin pulang telat sama ortu. Dulu mikirnya dalam hati “gue udah gede kok, udah bisa jaga diri dan gue nggak macem-macem, kegiatan gue nggak aneh-aneh” ternyata itu semua nggak cukup saudara-saudara. Karena memang setelah itu, sering banget aku ditegur karena pulang malem. Bukan masalah pulang malemnya, tapi izinnya itu loh. Teguran pertama, aku iyain aja dan aku ikuti maunya mereka: izin setiap pulang malam. Namun itu hanya hangat di awal saja. Ke sininya, penyakit kesotoyan gue-udah-gede ini kumat kembali. Aku akhirnya mendapatkan SP 2 waktu itu which I could add a fact : terjadi adu mulut di situ. Aku yang mempertanyakan kenapa harus begini, begitu? Orangtua yang selalu punya senjata andalan “kami tuh...