Skip to main content

Doa yang Terkabul

Hello, again, fellas!

Akhir-akhir ini alhamdulillah aku masih diberi kesempatan yang kesekian kali untuk update di blog, hehe. Ketahuan banget ya gabutnya? :') padahal sebenarnya banyak banget kerjaan yang harus diselesaikan (baca: setrikaan), terus beberapa house chores yang tertunda kayak nyapu, ngepel. If you ask why i postpone all those works is because the broom is peed by cat -.- huhu. Iya, sapunya dikencingin kucing terus akhirnya dicuci dulu dan sekarang lagi dijemur. That's why i move to blog. 

Lanjut aja ya ceritanya.

Jadi aku baru sadar bahwa sekarang sudah bulan Oktober, which is tiga bulan lagi kita akan memasuki tahun yang baru. Ini adalah cerita flashback dari akhir 2016. Bulan Desember tahun lalu, adikku Hanin memberikan sebuah kado kecil mungil bernama agenda book. Warnanya merah, dan desain layout-nya unyu-unyu, typically me. Di situ ada weekly plan, monthly plan dan notes -typically agenda book-. Walaupun aku sadar betul aku bukan tipe orang yang menulis agenda (biasanya agenda book gue isi kalo one day event atau kegiatan lainnya sudah selesai dilakukan haha. Biar nggak kosong aja gitu bukunya), tapi aku senang. Setidaknya waktu itu karena aku mau aksi GUIM di Brebes, i really need that planner buat mengetahui apa-apa aja yang harus kami -teman-teman di titik aksi- lakukan setiap harinya. Lalu pada bagian awal monthly plan di setiap bulannya, terdapat satu halaman kosong, sepertinya itu semacam wishlist di bulan tersebut. Pada halaman wishlist monthly plan yang Januari, aku menulis bahwa targetku tahun ini adalah patience and responsibilty (kesabaran dan tanggung jawab). Yang menjadi fokusku adalah kesabaran. Ini bukan sebuah keisengan belaka, ini aku tulis dengan sepenuh hati selembut sutra. Kenapa? karena deep down aku merasa bahwa sering banget aku lost buat nahan sabar, apa pun itu. Menurutku itu kacau, mengingat umurkuuuu yang semakin tua and i think this is so childish, dan harus diubah.  Lalu tertulislah kata 'kesabaran' pada target 2017.





Itulah yang sebenarnya terjadi di tahun ini.

Well, seiring berjalannya waktu entah kenapa aku merasa tahun ini lebih roller coaster dari tahun sebelumnya. Rasanya baru kemarin aku lega banget 2016 berakhir dengan segala ke-hampir mau meninggal-an karena tugas-tugas kuliah dan organisasi. Tapi ternyata hidup ini terus berputar. dan semakin bertambah umur, semakin bertambah juga kapasitas kita dalam menghadapi suatu persoalan. Aku pernah cerita sebelumnya bahwa belum enam bulan 2017 berjalan, aku sudah menghadapi permasalahan yang menurutku pahit banget kalau dikenang, yang aku sebut kegagalan. Yes, tahun ini adalah tahun kegagalan buatku. Dari mulai organisasi, sampai TKA, orangtua, dan lain-lainnya. Sudah nggak tahu lagi dalam sebulan bisa berapa kali nangis. Aku bukan orang yang gampang nangis tadinya, sekarang disentil dikit langsung banjir haha. tapi bukan itu poinnya.

Semakin mendekati akhir, semakin aku merasa bahwa sebenarnya Allah sedang mengabulkan doaku, dan membantuku mencapai target di tahun ini. Semua persoalan pahit yang aku (telah) hadapi, membuatku semakin mudah untuk mengendalikan emosi. Di awal, beuh.. Boro-boro. Sulit banget menerapkan si sabar ini. Yang tadinya ngedumel di muka, easily expressing anger, sad, and dissapointment, mempertanyakan kenapa sih begini banget ya Allah... Sampai akhirnya nangis sendiri tiba-tiba kayak diingetin gitu sama Allah "kamu kan minta jadi lebih sabar tahun ini." Itu merupakan sebenar-benarnya kebenaran. Yang tadinya sulit menerima kenyataan, semakin ke sini dan semakin bertambahnya 'masalah', semakin kuat dan bisa meletakkan sabar di awal.

Nggak cuma itu ternyata. Yang aku amazed dari perjalanan hidupku adalah, ternyata sebenarnya banyak sekali doa-doa terdahulu yang Allah kabulkan. nggak bermaksud riya', hanya ingin berbagi sedikit saja. Contohnya,tahun 2016 lalu aku pernah minta sama Allah buat bikin hidupku nggak gini-gini aja and it happened. Terus dari dulu pengen kuliah di UI, alhamdulillah tersampaikan. Dengan penuh drama, dan yeaaa bukan sarjana, tapi kalo di breakdown tuh, rasanya bersyukur banget masuk vokasi. terus gue pake nanya dan nangis gitu lagi mengapaaa ini harus terjadi padakuu, padahal gue yang minta. hah!

Wow.. waktu berjalan sangat cepat ya.

Aku merasa sekarang jadi lebih hidup. Semua hal-hal pahit itu membukakan jalan pikiran yang lebih luas, dan terang. Alhamdulillah. Sekarang, secara sadar aku bisa menerima apa pun hal-hal sulit yang kualami, bisa jadi karena memang Allah mengabulkan doaku (yang aneh-aneh itu). Kenapa sih hal sulit? kalo hal bahagia yang dikabulkan mah jelas sadar betul kita bisa dengan mudahnya berterima kasih sama Allah. Secara autopilot juga kita sadar bahwa ini yang gue minta, dan dikabulin. tapi nggak buat hal-hal sulit.


see this lampions? lampion ini jauh lebih indah ketika gelap sudah datang


Jadi sekarang kalo diantara kita tiba-tiba mendapat 'musibah', hal yang nggak ngenakin, atau apa pun itu yang pahit, coba telusuri lagi dulu abis solat pernah doa apa sama Allah? kalo kayak aku, doa minta dibikin lebih sabar, cara paling tepat dikabulkannya adalah dengan ujian. Kalo minta yang seneng-seneng, atau minta jodoh gitu misalnya. Terus sampe sekarang belum datang, dan kenapa ngerasanya dapet yang sedih-sedih melulu, mungkin sebenarnya kita sedang disiapkan menjadi pendamping yang kuat karena later jodoh kita adalah orang yang butuh kita kuatkan selalu, atau bisa jadi dia akan mendapatkan posisi penting yang jika kita nggak kuat, hubungannya jadi nonsence, meaningless. Kalo misalnya lagi pernah minta kerja di perusahaan yang bagus, sesuai passion, terus nyatanya kita mendapatkan yang sebaliknya, bisa jadi ada satu hal yang perlu kita perbaiki sebelum mendapatkan si perusahaan bagus itu. Mental building misalnya. Atau kalo berdoa minta orangtuanya sehat dan kaya lalu kita mendapat yang sebaliknya, berarti ada satu waktu di mana kita harus merasakan gimana rasanya punya ortu sakit dan serba kekurangan sehingga later Allah menyehatkan dan memberi materi berlebih kepada mereka, kita lebih bisa menghargai dan menggunakan kekayaan tersebut lebih efektif dan efisien.

Seperti yang kita tahu, ada tiga cara Allah mengabulkan doa. Pertama, doa yang langsung dikabulkan saat itu juga. Kedua, Allah menunda untuk mengabulkan doa tersebut, Ketiga, Allah mengganti doa kita dengan yang lebih baik. Intinya, semua doa itu pasti terkabul kok. kitanya yang harus rajin menelusuri apa-apa saja yang sebenarnya sudah Allah kabulkan. Sounds malesin sih, memang, tapi justru journey saat kita mencari pembenaran tersebutlah yang akan mengantarkan pada keajaiban doa-doa kita.



Semangatt!


PS: barusan banget dong 11:01 WIB sapu yang kujemur di jemuran atas tiba-tiba jatoh ke bawah, kesenggol kucing.....untung cuma kesenggol, dan nggak dipipisin. terus ternyata di luar mendung. That's the way Allah help me jadi nggak usah capek-capek lagi naik ke atas kalo tiba-tiba hujan, toh sapunya udah di bawah hehe. 

Thank you for reading,
Best Regards,


Hilya

Comments

Popular posts from this blog

my beloved sai :)

Sekolah Alam Indonesia tempat dimana aku mengahbiskan banyak waktu disini. dari kecil. dari playgroup. sampe sekarang. di tingkat tertinggi di SAI, SL 9. " sekolah alam? sekolah di utan apa hil?" "sekolahnya gimana tuh? punya kelas ga?" bener kata ka rhea. aku ga belajar di kelas. aku belajar di saung. karena kalo kelas itu identik sama ruang segiempat yang bertembok dan ada jendelanya. ada bangku, meja, meja guru dll. sedangkan sekolahku, ga ada meja guru. hehehehe. disini, aku ngga cuma belajar 2x2=4 atau, hasil akhir dr soal math, fisika, dll. tapi gimana prosesnya aku dapet jawaban itu. ga cuma kognitif, tapi akhlak juga diliat disini. dan selama aku sekolah disini, aku ga pernah bosen belajar disini. emang aku pernah bosen belajar math, ipa atau pelajaran lainnya. tapi lingkungan sekolahnya ngga pernah bikin aku bosen. the teachers. semua guru disini friendly. enak banget diajak ngobrol. sampe susah banget nge-describenya hehe.. mungkin karena belom pernah nyob...

Tentang Orangtua

Semenjak aku menjadi satu-satunya anak besar (bukan badannya) yang tinggal di rumah, aku semakin sadar bahwa sebenarnya aku ini masih jauh dari kata anak baik.  Seperti dulu waktu masih kuliah dan lagi sok-sokan menikmati peran sebagai (sok) aktifis, aku sering banget nggak izin pulang telat sama ortu. Dulu mikirnya dalam hati “gue udah gede kok, udah bisa jaga diri dan gue nggak macem-macem, kegiatan gue nggak aneh-aneh” ternyata itu semua nggak cukup saudara-saudara. Karena memang setelah itu, sering banget aku ditegur karena pulang malem. Bukan masalah pulang malemnya, tapi izinnya itu loh. Teguran pertama, aku iyain aja dan aku ikuti maunya mereka: izin setiap pulang malam. Namun itu hanya hangat di awal saja. Ke sininya, penyakit kesotoyan gue-udah-gede ini kumat kembali. Aku akhirnya mendapatkan SP 2 waktu itu which I could add a fact : terjadi adu mulut di situ. Aku yang mempertanyakan kenapa harus begini, begitu? Orangtua yang selalu punya senjata andalan “kami tuh...