Skip to main content

menyikapi kesibukan

"ga bisa gue sibuk banget hil,"
"rasanya badan gue mau pecah aja ini kesibukan ga ada akhirnya,"
"gimana coba nyelesain tugas segini banyak tapi agenda rapat jalan terus?"

beberapa teman curhat sama aku mengenai kesibukan mereka dan cenderung tidak kuat menghadapinya hingga (minimal) sampai akhir semester ini. takut nggak fokus, nggak bisa istirahat, keteteran tugas (ya apalagi vokasi kan banyak project gitu), dan lain-lain.

menjadi sibuk itu memang melelahkan, aku setuju.

 
tetapi dengan menjadi sibuk pun sebenarnya mendatangkan banyak manfaat.
bukan dengan manfaat jadi punya banyak pengalaman, nggak jadi mahasiswa "kupu-kupu", punya temen banyak. bukan itu.

menjadi sibuk berarti melatih diri bagaimana mengatur waktu dengan baik.
contohnya, ketika kamu banyak kegiatan entah itu kepanitiaan, never ending assignment, atau acara di luar kampus, kamu pasti akan cari cara bagaimana  menyelesaikan itu semua dengan waktu yang ada. tanpa kita sadari, menjadi sibuk membuat kita berpikir efektif. 

menjadi sibuk membuat diri kita lebih jeli dalam menentukan skala prioritas. 
memang sih, ini tuh klise banget. tapi bukannya sesuatu yang klise berarti terbukti kebenarannya? sadar nggak sih, jadi orang sibuk itu bikin kita lebih melihat apa yang seharusnya kita lakukan lebih dulu, dan melakukan apa setelahnya. 

"kewajiban lebih banyak dari pada waktu yang tersedia"

kalau begitu, sama saja ya dengan menjadi sibuk, waktu 24 jam kita jelas dipakainya untuk apa. nggak ada lagi tuh waktu bengong, wasting time ngayal lala lili.

beberapa waktu lalu, seorang teman cerita: "waktu ga sibuk aja aku keteteran baca quran, ibadah sunnah udah jarang. gimana coba kalo makin sibuk? aku takut aku jauh hil"

kalau dia takut sibuknya jadi keteteran ibadah, kalau aku liatnya dengan menjadi sibuk, kita jadi semakin ingat Allah. coba kalau kita banyak waktu luang? emang bakalan inget? bakal lebih rajin ibadah? justru waktu luang itu ujian banget seberapa sering kamu melakukan ibadah padahal kamu bisa santai-santai, jalan-jalan ke mana gitu. ini sih self reminder buat aku juga :')

menjadi sibuk malah bikin kita mikir gimana caranya tetep menjalin komunikasi dengan Yang Memberi Kesibukan. hehe. alhamdulillah loh Allah masih bikin kita takut. berarti Allah masih sayang :)

thank you for reading,
best regards,

hilya

Comments

Popular posts from this blog

my beloved sai :)

Sekolah Alam Indonesia tempat dimana aku mengahbiskan banyak waktu disini. dari kecil. dari playgroup. sampe sekarang. di tingkat tertinggi di SAI, SL 9. " sekolah alam? sekolah di utan apa hil?" "sekolahnya gimana tuh? punya kelas ga?" bener kata ka rhea. aku ga belajar di kelas. aku belajar di saung. karena kalo kelas itu identik sama ruang segiempat yang bertembok dan ada jendelanya. ada bangku, meja, meja guru dll. sedangkan sekolahku, ga ada meja guru. hehehehe. disini, aku ngga cuma belajar 2x2=4 atau, hasil akhir dr soal math, fisika, dll. tapi gimana prosesnya aku dapet jawaban itu. ga cuma kognitif, tapi akhlak juga diliat disini. dan selama aku sekolah disini, aku ga pernah bosen belajar disini. emang aku pernah bosen belajar math, ipa atau pelajaran lainnya. tapi lingkungan sekolahnya ngga pernah bikin aku bosen. the teachers. semua guru disini friendly. enak banget diajak ngobrol. sampe susah banget nge-describenya hehe.. mungkin karena belom pernah nyob...

Tentang Orangtua

Semenjak aku menjadi satu-satunya anak besar (bukan badannya) yang tinggal di rumah, aku semakin sadar bahwa sebenarnya aku ini masih jauh dari kata anak baik.  Seperti dulu waktu masih kuliah dan lagi sok-sokan menikmati peran sebagai (sok) aktifis, aku sering banget nggak izin pulang telat sama ortu. Dulu mikirnya dalam hati “gue udah gede kok, udah bisa jaga diri dan gue nggak macem-macem, kegiatan gue nggak aneh-aneh” ternyata itu semua nggak cukup saudara-saudara. Karena memang setelah itu, sering banget aku ditegur karena pulang malem. Bukan masalah pulang malemnya, tapi izinnya itu loh. Teguran pertama, aku iyain aja dan aku ikuti maunya mereka: izin setiap pulang malam. Namun itu hanya hangat di awal saja. Ke sininya, penyakit kesotoyan gue-udah-gede ini kumat kembali. Aku akhirnya mendapatkan SP 2 waktu itu which I could add a fact : terjadi adu mulut di situ. Aku yang mempertanyakan kenapa harus begini, begitu? Orangtua yang selalu punya senjata andalan “kami tuh...