Skip to main content

10x10

setiap manusia memiliki nilai-nilai kehidupan yang ia pegang dan ia anut sampai mati. nilai-nilai tersebut bersatu dengan jiwa menjadi sebuah karakter. kita tahu, nilai yang dianut setiap orang berbeda-beda. ada yang perbedaannya sangat drastis, ada yang hampir sama dengan kita. pantas saja Tuhan tak pernah mencipkatan manusia dengan karakter yang sama.

 

nilai-nilai tersebutlah yang disebut sebagai prinsip. prinsip menjadi sebuah pedoman kehidupan. ibarat drama, prinsip adalah naskah asli dan manusia sebagai artis yang bertopang pada naskah. kadang naskah tersebut diimprovisasi namun tak mengurangi keaslian cerita. sang sutradara pun mengharuskan pemainnya mengimprov naskah.

seperti roda, kehidupan ada waktunya di atas dan di bawah. siklus hidup yang terlihat ekstrim terkadang membuat kita lupa akan prinsip hidup sendiri. kadang di tengah jalan kita bertemu dengan pengembara yang bernasib sama dan memiliki prinsip yang mirip dengan kita sehingga bersamanya, kita merasa kuat dan semangat. namun tak sedikit pula kita bertemu dengan yang memiliki prinsip berbeda 180 derajat dari kita. di sinilah kita beradaptasi, menyesuaikan satu sama lain, mencoba melanjutkan perjalanan bersama. namun seringnya, yang seperti ini menjadi ujian bagi kita seberapa besar kita dapat berpegang teguh pada prinsip masing-masing. perbedaan yang sangat drastis tak cukup baik untuk kehidupan masing-masing. toh pada akhirnya ia memilih jalur A dan satunya memilih jalur B. ini sangat sering terjadi.

well, saya nggak menyesal dengan pertemuan kita di tengah jalan. bagaimana beradaptasi, mengenal satu sama lain sambil berjalan. hingga akhirnya, persimpangan ini yang mengharuskan kita berpisah. tidak ada irisan atas prinsip kita. terima kasih telah datang. kamu membuat saya menjadi orang yang kuat memegang prinsip. mungkin kalau kita nggak pernah bertemu, akan sulit rasanya menghadapi orang-orang yang berbeda prinsip sedangkan medan perjalanan semakin curam. saya bisa jatuh ke jurang.

terima kasih telah membuat saya lebih mengenal diri sendiri, karakter yang belum saya pahami, dan karaktermu yang akan jatuh ketika saya terus ikut di jalanmu. mencegah lebih baik daripada mengobati bukan?

10-10 =0
perbedaan prinsip ini tidak akan kuat kalau disatukan.

10x10 =100
tenang saja. setelah persimpangan ini, kita sama-sama akan bertemu dengan orang yang seprinsip.  bertemu dan berjalan bersama dengan yang seprinsip membuat kita semakin kuat bukan?

dan itulah sebenarnya yang kita butuhkan dalam hidup.


thank you for reading,
best regards

-hilya-

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

my beloved sai :)

Sekolah Alam Indonesia tempat dimana aku mengahbiskan banyak waktu disini. dari kecil. dari playgroup. sampe sekarang. di tingkat tertinggi di SAI, SL 9. " sekolah alam? sekolah di utan apa hil?" "sekolahnya gimana tuh? punya kelas ga?" bener kata ka rhea. aku ga belajar di kelas. aku belajar di saung. karena kalo kelas itu identik sama ruang segiempat yang bertembok dan ada jendelanya. ada bangku, meja, meja guru dll. sedangkan sekolahku, ga ada meja guru. hehehehe. disini, aku ngga cuma belajar 2x2=4 atau, hasil akhir dr soal math, fisika, dll. tapi gimana prosesnya aku dapet jawaban itu. ga cuma kognitif, tapi akhlak juga diliat disini. dan selama aku sekolah disini, aku ga pernah bosen belajar disini. emang aku pernah bosen belajar math, ipa atau pelajaran lainnya. tapi lingkungan sekolahnya ngga pernah bikin aku bosen. the teachers. semua guru disini friendly. enak banget diajak ngobrol. sampe susah banget nge-describenya hehe.. mungkin karena belom pernah nyob...

Tentang Orangtua

Semenjak aku menjadi satu-satunya anak besar (bukan badannya) yang tinggal di rumah, aku semakin sadar bahwa sebenarnya aku ini masih jauh dari kata anak baik.  Seperti dulu waktu masih kuliah dan lagi sok-sokan menikmati peran sebagai (sok) aktifis, aku sering banget nggak izin pulang telat sama ortu. Dulu mikirnya dalam hati “gue udah gede kok, udah bisa jaga diri dan gue nggak macem-macem, kegiatan gue nggak aneh-aneh” ternyata itu semua nggak cukup saudara-saudara. Karena memang setelah itu, sering banget aku ditegur karena pulang malem. Bukan masalah pulang malemnya, tapi izinnya itu loh. Teguran pertama, aku iyain aja dan aku ikuti maunya mereka: izin setiap pulang malam. Namun itu hanya hangat di awal saja. Ke sininya, penyakit kesotoyan gue-udah-gede ini kumat kembali. Aku akhirnya mendapatkan SP 2 waktu itu which I could add a fact : terjadi adu mulut di situ. Aku yang mempertanyakan kenapa harus begini, begitu? Orangtua yang selalu punya senjata andalan “kami tuh...