Skip to main content

VERSUS!

kadang pengkastaan kehidupan secara nggak sengaja selalu kita alami in our daily activities. cuma ya, luckynya, we don't realize what is the 'life stratification' we've got. saya pernah satu kali ngerasain  pengkastaan kehidupan yang paling menyesakkan, yang ternyata sella juga  mengalami hal yang sama.

jadi suatu hari di pelajaran matematika kelas 10 waktu itu. dibagikanlah hasil ulangan harian yang waktu itu (entah kapan saya juga nggak ngeh kalo MTK pernah UH). kebetulan chair mate saya master matematika. entahlah apakah teman sebangku memengaruhi hasil ulangan harian saya juga nggak paham. yang pasti, setelah kertas dibagikan...

saya : *buka kertas* yah, 0,5 lagi nih.
master : iyanih sama. 0,5 lagi.

awalnya saya nggak nyadar sih dia ngomong kaya gitu maksudnya apa. tapi setelah saya  menilik kertas ulangan dia, didapatkan hasil sebagai berikut: nilai dia kurang 0,5 lagi menuju sempurna. 

sedangkan saya 0,5 lagi menuju KKM.

*nontonin bebek kayang*


zzzz no comment


Comments

Popular posts from this blog

my beloved sai :)

Sekolah Alam Indonesia tempat dimana aku mengahbiskan banyak waktu disini. dari kecil. dari playgroup. sampe sekarang. di tingkat tertinggi di SAI, SL 9. " sekolah alam? sekolah di utan apa hil?" "sekolahnya gimana tuh? punya kelas ga?" bener kata ka rhea. aku ga belajar di kelas. aku belajar di saung. karena kalo kelas itu identik sama ruang segiempat yang bertembok dan ada jendelanya. ada bangku, meja, meja guru dll. sedangkan sekolahku, ga ada meja guru. hehehehe. disini, aku ngga cuma belajar 2x2=4 atau, hasil akhir dr soal math, fisika, dll. tapi gimana prosesnya aku dapet jawaban itu. ga cuma kognitif, tapi akhlak juga diliat disini. dan selama aku sekolah disini, aku ga pernah bosen belajar disini. emang aku pernah bosen belajar math, ipa atau pelajaran lainnya. tapi lingkungan sekolahnya ngga pernah bikin aku bosen. the teachers. semua guru disini friendly. enak banget diajak ngobrol. sampe susah banget nge-describenya hehe.. mungkin karena belom pernah nyob...

Tentang Orangtua

Semenjak aku menjadi satu-satunya anak besar (bukan badannya) yang tinggal di rumah, aku semakin sadar bahwa sebenarnya aku ini masih jauh dari kata anak baik.  Seperti dulu waktu masih kuliah dan lagi sok-sokan menikmati peran sebagai (sok) aktifis, aku sering banget nggak izin pulang telat sama ortu. Dulu mikirnya dalam hati “gue udah gede kok, udah bisa jaga diri dan gue nggak macem-macem, kegiatan gue nggak aneh-aneh” ternyata itu semua nggak cukup saudara-saudara. Karena memang setelah itu, sering banget aku ditegur karena pulang malem. Bukan masalah pulang malemnya, tapi izinnya itu loh. Teguran pertama, aku iyain aja dan aku ikuti maunya mereka: izin setiap pulang malam. Namun itu hanya hangat di awal saja. Ke sininya, penyakit kesotoyan gue-udah-gede ini kumat kembali. Aku akhirnya mendapatkan SP 2 waktu itu which I could add a fact : terjadi adu mulut di situ. Aku yang mempertanyakan kenapa harus begini, begitu? Orangtua yang selalu punya senjata andalan “kami tuh...