Skip to main content

kegalauan anak SMP

UN selesai! what next?

mungkin untuk sebagian orang, UN selesai, perjuangan juga selesai. tinggal berdo'a dan pasrah. tapi itu nggak berlaku untuk saya. seminggu setelah UN *tepatnya besok*, saya akan menghadapi sesuatu! sesuatu yang besar dan banyak orang yang menaruh harapan pada saya, agar saya bisa dan mampu dalam perjuangan besok. what's that?

academic test MAN Insan Cendekia.

sekolah yang menjadi harapan besar buat orang-orang yang punya cita-cita tinggi, tapi kurang fasilitas. yep! pada awalnya, saya termasuk orang yang NGGAK MAU masuk Incen cuma karena satu hal: takut nggak bisa disananya. pede banget yak? nyoba aja belom -.-" akhirnya saya beranikan juga tuh nyentuh dan mengisi formulirnya. bolak-balik ngurus ini itu, akhirnya dikirim juga. 19 April 2011, ternyata temen saya Thia, udah lulus seleksi berkas. kok saya nggak dikasih tau? jangan-jangan nggak lulus. soalnya, ada satu berkas yang kurang. ternyata pas di cek di webnya, saya LULUS! mengalahkan ribuan orang yang ngasih kertas doang. and do you know? dari ribuan orang, yang diterima untuk tes akademik ada 3000 orang lebih di seluruh indonesia. dan mereka semua pasti pinter mirip einstein *lebay* karena mereka *yang daftar incen* harus *minimal* masuk 5 besar peringkat tertinggi di sekolah.

dan kemampuan mereka pasti lebih besar dari saya.

begitulah. UN selesai, dan sebetulnya saya nggak mau lagi berurusan sama soal-soal itu lagi. we are done *halah* tapi tes Incen menunggu. saya bisa aja ngasih jawaban seikhlas hati. saya bisa, tapi saya nggak mau. keluarga saya emang tergolong yang biasa saja. hidup cukup, nggak berlebih. yang ada dipikiran cuma satu. kata-kata ibu saya yang bilang kalau dia bakalan bersyukur banget kalau saya diterima disana. well, yeah. saya anak pertama dan masih ada 3 bocah yang "ngekor" di belakang saya. mereka yang harusnya jadi prioritas untuk pendidikan karena makin lama, biaya pendidikan makin mahal. apalagi untuk my lil bro yang pastinya diprioritaska banget karena dia anak laki-laki.

jadi sekarang mungkin saya akan tarik kata-kata untuk nggak mau masuk Incen. saya mau coba dulu semaksimal mungkin. mau diterima atau nggak, itu urusan belakang. kalopun nggak diterima, ya nggak apa-apa. emang bukan jalannya disitu. but, the war hasn't begun yet. i will try insya allah.


Comments

Popular posts from this blog

my beloved sai :)

Sekolah Alam Indonesia tempat dimana aku mengahbiskan banyak waktu disini. dari kecil. dari playgroup. sampe sekarang. di tingkat tertinggi di SAI, SL 9. " sekolah alam? sekolah di utan apa hil?" "sekolahnya gimana tuh? punya kelas ga?" bener kata ka rhea. aku ga belajar di kelas. aku belajar di saung. karena kalo kelas itu identik sama ruang segiempat yang bertembok dan ada jendelanya. ada bangku, meja, meja guru dll. sedangkan sekolahku, ga ada meja guru. hehehehe. disini, aku ngga cuma belajar 2x2=4 atau, hasil akhir dr soal math, fisika, dll. tapi gimana prosesnya aku dapet jawaban itu. ga cuma kognitif, tapi akhlak juga diliat disini. dan selama aku sekolah disini, aku ga pernah bosen belajar disini. emang aku pernah bosen belajar math, ipa atau pelajaran lainnya. tapi lingkungan sekolahnya ngga pernah bikin aku bosen. the teachers. semua guru disini friendly. enak banget diajak ngobrol. sampe susah banget nge-describenya hehe.. mungkin karena belom pernah nyob...

Tentang Orangtua

Semenjak aku menjadi satu-satunya anak besar (bukan badannya) yang tinggal di rumah, aku semakin sadar bahwa sebenarnya aku ini masih jauh dari kata anak baik.  Seperti dulu waktu masih kuliah dan lagi sok-sokan menikmati peran sebagai (sok) aktifis, aku sering banget nggak izin pulang telat sama ortu. Dulu mikirnya dalam hati “gue udah gede kok, udah bisa jaga diri dan gue nggak macem-macem, kegiatan gue nggak aneh-aneh” ternyata itu semua nggak cukup saudara-saudara. Karena memang setelah itu, sering banget aku ditegur karena pulang malem. Bukan masalah pulang malemnya, tapi izinnya itu loh. Teguran pertama, aku iyain aja dan aku ikuti maunya mereka: izin setiap pulang malam. Namun itu hanya hangat di awal saja. Ke sininya, penyakit kesotoyan gue-udah-gede ini kumat kembali. Aku akhirnya mendapatkan SP 2 waktu itu which I could add a fact : terjadi adu mulut di situ. Aku yang mempertanyakan kenapa harus begini, begitu? Orangtua yang selalu punya senjata andalan “kami tuh...