Skip to main content

the last climbing

dari judulnya, kita bisa langsung tau kalo buku ini tentang "climber". kisah tentang pencarian pelaku pembunuhan berencana. Nuri, seorang wartawan magang di majalah kriminal sibuk dengan kasus tersebut dikarenakan si korban bernama Raymond meninggal dihadapannya setelah meminum jus alpukat yang dipesan untuk Marco. prediksi awal nuri adalah, pembunuh mengincar Marco tetapi ternyata salah sasaran. ini ada kaitannya dengan sejumlah barang anak kos di kos-kosannya dan dengan anak-anak pecinta alam kampusnya *karena Marco dan raymond adalah senior di organisasi tersebut* beberapa nama sempat diperiksa salah satunya Silvi, teman Nuri yang punya dendam pribadi dengan Marco.

Silvi menuduh Marco terlibat dalam kasus kematian kakaknya. namun ternyata, ada data tersembunyi dibalim itu semua. Marco ditahan dengan alasan ia sengaja memasukkan racun ke minuman tersebut dan memang membidik Raymond sebagai target utama. setelah tertangkapnya Marco, semua nama dicoret dari daftar saksi. ternyata takdir membuka jalan lain tentang si pelaku utama. Marco dibebaskan. kemiripan fisik Marco dan Raymond menjadi sebuah cerita baru lagi. dikarenakan si pelaku sebenarnya membidik raymond. namun karena kemiripan fisik mereka, Marco lah yang jadi korban-tapi-selamat. semua nama yang sudah dicoret kembali masuk dalam daftar saksi. pembunuhnya seorang yang tidak pernah bisa diduga! Nuri membuka semua cerita tentang pelaku pembunuhan tersebut. siapakah pembunuh sebenarnya? bagaimana dengan silvi? apa motif terbunuhnya Raymond? baca bukunya! seru dan menegangkan!

PS: berhubung itu buku lama, nyarinya juga susah. aku dapet buku yang kayak gini di islamic book fair dengan harga sepuluh ribu! the last climbing bukunya bu Ainun. buku pertamanya judulnya until murder do us apart yang nggak kalah seru dan negangin kayak gini. yang berminat, hubungi aku :)

Comments

Popular posts from this blog

my beloved sai :)

Sekolah Alam Indonesia tempat dimana aku mengahbiskan banyak waktu disini. dari kecil. dari playgroup. sampe sekarang. di tingkat tertinggi di SAI, SL 9. " sekolah alam? sekolah di utan apa hil?" "sekolahnya gimana tuh? punya kelas ga?" bener kata ka rhea. aku ga belajar di kelas. aku belajar di saung. karena kalo kelas itu identik sama ruang segiempat yang bertembok dan ada jendelanya. ada bangku, meja, meja guru dll. sedangkan sekolahku, ga ada meja guru. hehehehe. disini, aku ngga cuma belajar 2x2=4 atau, hasil akhir dr soal math, fisika, dll. tapi gimana prosesnya aku dapet jawaban itu. ga cuma kognitif, tapi akhlak juga diliat disini. dan selama aku sekolah disini, aku ga pernah bosen belajar disini. emang aku pernah bosen belajar math, ipa atau pelajaran lainnya. tapi lingkungan sekolahnya ngga pernah bikin aku bosen. the teachers. semua guru disini friendly. enak banget diajak ngobrol. sampe susah banget nge-describenya hehe.. mungkin karena belom pernah nyob...

Tentang Orangtua

Semenjak aku menjadi satu-satunya anak besar (bukan badannya) yang tinggal di rumah, aku semakin sadar bahwa sebenarnya aku ini masih jauh dari kata anak baik.  Seperti dulu waktu masih kuliah dan lagi sok-sokan menikmati peran sebagai (sok) aktifis, aku sering banget nggak izin pulang telat sama ortu. Dulu mikirnya dalam hati “gue udah gede kok, udah bisa jaga diri dan gue nggak macem-macem, kegiatan gue nggak aneh-aneh” ternyata itu semua nggak cukup saudara-saudara. Karena memang setelah itu, sering banget aku ditegur karena pulang malem. Bukan masalah pulang malemnya, tapi izinnya itu loh. Teguran pertama, aku iyain aja dan aku ikuti maunya mereka: izin setiap pulang malam. Namun itu hanya hangat di awal saja. Ke sininya, penyakit kesotoyan gue-udah-gede ini kumat kembali. Aku akhirnya mendapatkan SP 2 waktu itu which I could add a fact : terjadi adu mulut di situ. Aku yang mempertanyakan kenapa harus begini, begitu? Orangtua yang selalu punya senjata andalan “kami tuh...