Skip to main content

review confession of a shopaholic

Confession of a shopaholic!



This film was great! Nggak Cuma ngasih tau tentang jatuh-bangunnya si Rebecca. Tapi ngasih kita pelajaran juga.

Menahan nafsu untuk sesuatu yang sebenernya kita nggak perlu2 amet. Kadang (atau bahkan sering), kita pergi ke toko dan lihat ini itu dan yaa, we want to make it ours! Padahal sebenernya kita punya barang tersebut dan itu masih bisa dipakai. Honestly, aku juga masih suka ditipu sm toko2. Kadang aku beli sesuatu bukan karena aku perlu, tapi karena aku ingin. Padahal, setelah aku punya, I don’t really use it. Cuma pas awalan aja, setelah itu aku pajang aja bendanya.

Penyesalan itu emang datangnya belakangan. Karena kalo datangnya di depan, kita pasti mikir untuk nggak melakukan hal yang membuat kita nyesal. Dan disitulah ujiannya. Aku selalu nyoba untuk nggak bikin list barang2 yg Cuma “kepingin” doang. Tapi itu susah dilakukan. Banyak factor dan salah satunya adalah, kemasannya lucu, harganya murah! Dan setelah aku nonton film itu, aku jadi mikir untuk nggak akan sembarang masuk toko yang aku tau itu bakalan ngebuat aku pengen “beli”.

Kedua, aku jadi mikir untuk me-manage uang jajanku yang dikasih per bulan. Karena aku ngerasa, pas dikasih uang jajan per bulan dibandingkan per hari, aku jadi seenaknya menggunakan uang jajan tersebut. yang harusnya cukup untuk sebulan (bahkan lebih dari cukup) malah bisa kurang. Jujur aja nih, aku masih suka seenaknya kalo beli barang. Makanya aku pengen banget ngerubah itu! I wanna change that! And I believe I can change it~ mudah2an dengan aku jujur disini, aku bisa nyadar diri untuk nggak pretending to all people. Dengan jujur ini, aku harap aku bisa ngerubah soalnya kan tulisannya udah dibaca, jadinya susah untuk bohong.


Finally, thanks for the film! I really enjoyed it. and I got some learns I have to do for my life. My better life :)

Comments

Popular posts from this blog

my beloved sai :)

Sekolah Alam Indonesia tempat dimana aku mengahbiskan banyak waktu disini. dari kecil. dari playgroup. sampe sekarang. di tingkat tertinggi di SAI, SL 9. " sekolah alam? sekolah di utan apa hil?" "sekolahnya gimana tuh? punya kelas ga?" bener kata ka rhea. aku ga belajar di kelas. aku belajar di saung. karena kalo kelas itu identik sama ruang segiempat yang bertembok dan ada jendelanya. ada bangku, meja, meja guru dll. sedangkan sekolahku, ga ada meja guru. hehehehe. disini, aku ngga cuma belajar 2x2=4 atau, hasil akhir dr soal math, fisika, dll. tapi gimana prosesnya aku dapet jawaban itu. ga cuma kognitif, tapi akhlak juga diliat disini. dan selama aku sekolah disini, aku ga pernah bosen belajar disini. emang aku pernah bosen belajar math, ipa atau pelajaran lainnya. tapi lingkungan sekolahnya ngga pernah bikin aku bosen. the teachers. semua guru disini friendly. enak banget diajak ngobrol. sampe susah banget nge-describenya hehe.. mungkin karena belom pernah nyob...

Tentang Orangtua

Semenjak aku menjadi satu-satunya anak besar (bukan badannya) yang tinggal di rumah, aku semakin sadar bahwa sebenarnya aku ini masih jauh dari kata anak baik.  Seperti dulu waktu masih kuliah dan lagi sok-sokan menikmati peran sebagai (sok) aktifis, aku sering banget nggak izin pulang telat sama ortu. Dulu mikirnya dalam hati “gue udah gede kok, udah bisa jaga diri dan gue nggak macem-macem, kegiatan gue nggak aneh-aneh” ternyata itu semua nggak cukup saudara-saudara. Karena memang setelah itu, sering banget aku ditegur karena pulang malem. Bukan masalah pulang malemnya, tapi izinnya itu loh. Teguran pertama, aku iyain aja dan aku ikuti maunya mereka: izin setiap pulang malam. Namun itu hanya hangat di awal saja. Ke sininya, penyakit kesotoyan gue-udah-gede ini kumat kembali. Aku akhirnya mendapatkan SP 2 waktu itu which I could add a fact : terjadi adu mulut di situ. Aku yang mempertanyakan kenapa harus begini, begitu? Orangtua yang selalu punya senjata andalan “kami tuh...